Pages

Jumat, 22 Juni 2012

Terjemahan cerita SHERLOCK HOLMES (A STUDY IN SCARLET)

Terjemahan cerita SHERLOCK HOLMES (A STUDY IN SCARLET)
Penelusuran Benang Merah
A STUDY IN SCARLET
by Sir Arthur Conan Doyle
BAGIAN 1:
Penelusuran Ulang Kenangan John H. Watson, M.D., Pensiunan Departemen Kesehatan Angkatan Perang
Daftar Isi
Bab 1 MR. SHERLOCK HOLMES
Bab 2 KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Bab 3 MISTERI LAURISTON GARDEN
Bab 4 APA YANG HARUS DICERITAKAN OLEH JOHN RANCE
Bab 5 IKLAN KAMI MENGUNDANG PENGUNJUNG
Bab 6 TOBIAS GREGSON MEMAMERKAN KEBOLEHANNYA
Bab 7 CAHAYA DALAM KEGELAPAN
Bab 1
MR. SHERLOCK HOLMES
PADA TAHUN 1878 aku mengambil gelar Doctor of Medicine di Universitas London, dan meneruskan pendidikanku di Netley untuk menjalani kursus ahli bedah di Angkatan Perang. Setelah menyelesaikan studiku, aku bergabung dengan Fifth Northumberland Fusiliers sebagai asisten ahli bedah. Pada waktu itu Resimen ditempatkan di India, dan sebelum aku bisa bergabung, perang kedua di Afghan telah terjadi. Begitu mendarat di Bombay, aku sadar bahwa tubuhku telah melewati perbatasan, dan sudah terlalu jauh masuk ke negeri musuh. Aku terus mengikuti petugas lainnya yang situasinya sama denganku, yaitu tiba dengan selamat di Kandahar untuk bergabung dengan resimen, dan sekaligus memulai tugas-tugas baru.
Kampanye memberikan janji-janji dan kehormatan kepada banyak orang, tetapi bagiku hanyalah bencana dan kemalangan. Aku dipindahkan dari kesatuanku dan dipekerjakan di Berkshires, aku mengabdi di sana berterpatan pada saat pertempuran fatal di Maiwand. Di sana bahuku diserang oleh peluru Jezail yang menghancurkan tulangku serta menyerempet nadi-subclavian ku. Seharusnya aku sudah berada di tangan pembunuh kejam Ghazis sekarang, namun atasanku Murray, bukan karena alasan kewajiban atau keberanian, memaksaku melewati segerombolan kuda sehingga membawaku sampai ke perbatasan Inggris dengan selamat.
scar1
Rasa sakit dan penderitaan berkepanjang menyeselimuti diriku yang lemah. Aku dipindahkan, dengan menderita sederet luka yang hebat, ke rumah sakit pangkalan di Peshawar. Selagi aku terkapar disebabkan oleh demam enteric, semacam kutukan orang India, aku terbaring dan jauh dari hal-hal seperti berjalan-jalan berkeliling bangsal bahkan sedikit berjemur di beranda. Selama berbulan-bulan hidupku penuh keputusasan, dan pada akhirnya aku perlahan-lahan sembuh serta kembali kepada diriku semula. Aku menjadi sangat lemah dan kurus, keadaan ini membuatku disegerakan kembali ke Inggris. Aku dikirimkan via pesawat pengangkut tentara Orontes, dan mendarat satu bulan kemudian di dermaga Portsmouth dengan kesehatan yang semakin memburuk. Sesampainya di Inggris, aku diberi ijin oleh pihak Pemerintah untuk menghabiskan masa penyembuhanku selama sembilan bulan berikutnya.
Aku hidup sebatang kara di Inggris, sekaligus bebas seperti udara - atau bebas sebagai orang yang berpenghasilan sebelas shilling eman sen sehari yang menjadikanku lelaki yang seharusnya. Pada kondisi ini secara alami aku bertempat tinggal di London, tempat pembuangan yang bagus bagi semua pemakai Lounge dan pemalas Kerajaan untuk membuang uangnya. Aku tinggal di hotel pribadi di sekitar Pantai. Di mana aku bisa menghilangkan suntuk, jalan-jalan, dan menghabiskan uang yang aku memiliki, sangat bebas bahkan lebih bebas dibandingkan dengan diriku yang sesungguhnya. Aku menyadari bahwa kondisi finansialku sudah sangat mengkawatirkan sehingga aku harus pergi dari kota metropolis ini dan hidup di tempat lain di suatu tempat di negeri ini atau merubah total gaya hidupku. Aku mulai dengan berfikir untuk memilih alternative ke dua yaitu meninggalkan hotel, dan menyewa tempat tinggal yang lebih murah serta berjangka empat priode.
Setelah berhari-hari maka aku sampai kepada keputusan ini. Aku berdiri di Bar Criterion. Ketika seseorang menepuk bahuku, aku menoleh ke belakang, ternyata aku mengenalinya, Young Stamford, yang tadinya menegurku di Bart. Tatapan mukanya yang bersahabat di belantara London yang agung ini adalah suatu hal yang menyenangkan bagi seseorang yang kesepian seperti diriku. Dahulunya Stamford dan aku belum pernah seakrab ini, tetapi sekarang aku meladeninya dengan antusias, dan dia, pada giliranya muncul untuk mengunjungiku. Dalam suasana gembira, aku mengajak dia makan siang dengan di Holborn, dan kami mulai ngobrol.
“Apa yang terjadi pada dirimu, Watson?” ia bertanya dengan terang-terangan, seperti merayap menembus jalanan London yang penuh sesak. “kau sama kurusnya dengan penggaris dan kulitmu sama coklatnya dengan kacang.”
Aku memberikan gambaran singkat tetang petualanganku, dan dengan susah payah menyimpulkannya saat kami mencapai tujuan.
“Orang malang!” katanya, dengan penuh kasihan, setelah ia mendengarkan kemalanganku. “Apa yang mau kau lakukan sekarang?”
“Mencari penginapan,” jawabku. “Berusaha untuk mendapatkan ruang yang nyaman dengan harga layak.”
“Aneh sekali ya…,” kata rekanku; “dalam satu hari ini, sudah dua orang berekspresi seperti itu kepadaku, termasuk kau.”
“Dan siapa yang pertama?” Tanyaku.
“Seorang teman yang sedang bekerja di laboratorium kimia di rumah sakit. Pagi ini dia meratapi dirinya sendiri karena tidak bisa menemukan seseorang yang mau berbagi beberapa ruangan yang bagus dengannya yang terlalu sulit untuk ditanggungnya sendiri.”
“Astaga!” Aku berteriak; “jika dia benar-benar ingin seseorang untuk berbagi ruang dan biayanya, aku orang yang tepat untuknya. Aku lebih suka punya partner ketimbang sendirian.”
Young Stamford memandangku dengan cara yang aneh di atas gelas winenya. “kau belum tahu Sherlock Holmes sedikitpun,” katanya; “barangkali kau tidak akan tahan berteman dengannya.”
“Kenapa, apa ada yang salah dengannya?”
“Oh, aku tidak bilang ada yang salah dengannya. Pemikirannya sedikit aneh dan terlalu antusias terhadap beberapa cabang sains. Sejauh yang aku tahu, dia adalah pekerja yang cukup taat peraturan.”
“Apa dia Mahasiswa Kedokteran?” kataku.
“Bukan - Aku ngak tahu apa keahlianya. Aku percaya ia ahli di bidang anatomi, dan salah satu ahli kimia terbaik; tetapi, sejauh yang aku tahu, ia belum pernah mengambil kelas medis. Studinya sangat eksentrik dan tak teratur, tetapi pengetahuannya lebih banyak dibandingkan dengan profesornya.”
“Tak pernahkah kau tanyai dia apa yang dikerjakannya?” Tanyaku.
“Tidak; dia bukanlah orang yang mudah diprediksi, meskipun begitu ia cukup komunikatif ketika kita tanya seputar khayalannya.”
“Aku perlu menemuinya,” Kataku. “Jika aku akan indekos dengan seseorang, aku perlu belajar menyukai orang itu dan mempelajari kebiasaannya. Aku tidak cukup kuat untuk bertahan di keramaian. Aku sudah bosan dengan keadaanku seperti di Afghanistan keamarin. Bagaimana aku bisa menemui temanmu ini?”
“Dia pasti sedang di laboratorium sekarang,” jawab rekanku. “Ia tidak akan meninggalkan tempat itu selama berminggu-minggu, kecuali bekerja di sana dari pagi sampai malam. Jika kau suka, kita bisa berkeliling-keling setelah makan siang.”
“Pasti,” Jawabku, dan percakapan pun beralih ke topik yang lain.
Ketika kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, setelah meninggalkan Holborn, Stamford memberiku lagi sedikit nasihat untuk menghadapi pria yang akan kujadikan teman indekosku ini.
“Kau jangan menyalahkan aku jika tak merasa cocok dengannya,” katanya; “Aku tidak tahu lebih banyak lagi tentang dia. Pengetahuanku tentang dia hanya sebatas yang aku pelajari dari pertemuan di laboratorium. Kau yang menginginkan pertemuan ini, jadi jangan minta pertanggungjawaban ku.”
“Jika kita tidak berhasil, akan lebih mudah untuk kita berpisah,” Jawab ku. “Nampaknya aku juga begitu, Stamford,” Aku menambahkan, sambil melihat rekan ku dengang rasa tak enak, “Alasanmu untuk tidak terkait menyangkut perihal ini. Adalah karena perangai orang ini yang sangat hebat, atau apa? Jangan bicara ngak jelas seperti itu dong.”
“Tidak mudah untuk mengekspresikan hal yang susah diekspresikan,” ia menjawab dengan tawa. “Bagiku, Holmes sedikit terlalu ilmiah dan mendekati berdarah-dingin. Aku bisa bayangkan dia memberi temannya secuil sayuran alkaloida yang terakhir, bukan karena ia dengki, kau tahu kan…, tetapi sederhananya dia selalu bersemangat nuntuk memastikan keakuratan efek dari sebuah gagasan. Untuk melakukan keadilannya, aku pikir dia bersedia diperlakukan sama jika dia di posisi tadi. Ia tampak gemar akan kenyataan dan ilmu pasti.”
“Ya bagus lah kalau begitu.”
“Ya, tetapi mungkin saja terlalu berlebihan. Ketika waktunya tiba untuk memukul subjek di ruang potong dengan tongkat, pasti berubah jadi bentuk yang agak aneh.”
“Memukul subjek”
“Ya, untuk memverifikasi berapa banyak memar yang mungkin diproduksi setelah kematian. Aku melihatnya dengan mataku sendiri.”
“Tapi kau bilang tadi dia bukan mahasiswa kedokteran?”
“Tidak. hanya Tuhan yang tahu bidang studi apa yang diambilnya. Namun kita sudah sampai di sini, dan kau harus membentuk kesanmu sendiri tentangnya.” Begitulah katanya, kami menuruni jalan setapak yang sempit dan melintas pintu samping yang kecil, yang terbuka menuju bagian samping rumah sakit yang besar. Aku sudah terbiasa dengan suasana rumah sakit ini, dan tidak perlu dipandu ketika kami menaiki tangga batu yang berwarna pucat dan jalan di koridor panjang yang dindingnya bercat putih dan pintu berwarna dun. Mendekati ujung jalan yang melengkungan rendah dan bercabang menuju laboratorium kimia.
Kamar yang tinggi, bergaris-garis dan dipenuhi dengan botol tak terhitung jumlahnya. Meja yang lebar dan rendah berserakan, tabung destilasi berdiri tegak, tabung-reaksi, dan Lampu Bunsen kecil, dengan kedipan nyala api biru. Hanya ada satu siswa di ruang itu, yang sedang membungkuk ke depan meja dan larut dengan pekerjaannya. Bunyi langkah kaki kami membuatnya menoleh ke arah kami dengan sangat gembira. “Aku menemukannya! menemukannya,” Teriaknya kepada rekanku, berlari ke arah kami dengan tabung reaksi di tangannya. “Aku sudah menemukan re-agent yang mempercepat haemoglobin, dan bukan yang lain.” Dia seperti menemukan tambang emas, kesenangan di paras wajahnya tidak bisa dilukiskan lagi.
scar2
“Dr. Watson, Mr. Sherlock Holmes,” kata Stamford, memperkenalkan kami.
“Apa kabar?” katanya dengan ramah, menggenggam tanganku dengan kuat, sepertinya aku sudah memberinya kredit. “Anda pernah ke Afghanistan, ku rasa.”
“Bagaimana anda bisa tahu?” tanyaku, dengan terkejut.
“Bukan apa-apa,” katanya, tertawa kecil sendiri. “Pertanyaan sekarang adalah tentang haemoglobin. Kau lihat penemuanku ini? Tidak diragukan lagi.”
“Secara kimiawi hal ini menarik, tidak diragukan,” Jawabku, “tetapi secara praktik–”
“Kenapa, bung, ini penemuan medico-legal yang paling praktis selama bertahun-tahun. Tahukah anda bahwa itu memberi kita tes yang layak untuk noda darah? ke sini sekarang!” Ia meraih lengan jaketku dengan sangat berhasrat, dan menunjukkan meja kerjanya kepadaku. “Andaikan kita punya darah segar,” katanya, sambil menusuk jari nya, lalu menteteskan darahnya ke dalam pipet tetes. “Sekarang, aku menambahkan sedikit darah ini ke 1 liter air. kau pasti merasa bahwa campuran yang dihasilkan mewakili air murni. Proporsi darah tidak bisa lebih dari satu per sejuta. Aku tak punya keraguan, walaupun begitu, kita harus memperoleh karakteristik reaksinya.” Selagi ia bicara, Ia meletakkan nya ke dalam bejana dengan sedikit kristal putih, dan kemudian menambahkan beberapa tetes cairan transparan. Segera muatan itu diasumsikannya berwarna kayu mahoni jemu, dan debu kecoklat-coklatan bergerak cepat ke dasar guci kaca.
“Ha! ha!” ia berteriak gembira, menepukkan tangan nya, dan berseri-seri seperti anak dengan mainan baru. “Apa pendapat anda?”
“Tampaknya tes berjalan baik,” Kataku.
“Benar sekali! benar Sekali! Tes Guaiacum klasik adalah tes yang sangat canggung dan tidak-pasti. Jadi apakah layak sebagai penguji mikroskopik untuk sel darah. Dan kemudian, tidak ada gunanya jika noda dibiarkan beberapa lama. Sekarang, inilah solusinya, jika darah dalam kondisi baru atau tidak. Pernahkan tes ini ditemukan, ada beratus-ratus manusia yang sekarang berjalan di atas bumi ini yang dulunya harus dihukuman atas kejahatan mereka.”
“Tentu saja!” bisikku.
“Perkara pidana terus-menerus bergantung pada hal ini. Seseorang diputuskan untuk dijadikan tersangka memakan waktu kurang lebih satu bulan. Pakaian atau pelapisnya diuji dan noda kecoklat-coklatan ditemukan di atasnya. Apakah itu noda darah, noda lumpur, noda karat, noda buah, atau apapun itu. Bagi para ahli bisa menjadi pertanyaan yang membingungkan, tapi mengapa? Sebab tidak ada pengujian yang dapat dipercaya. Sekarang kita punya tes Sherlock Holmes, dan tidak akan ada lagi kesulitan.”
Matanya berkelip kala ia bicara, dan meletakkan tangan di dadanya serta membungkuk seolah-olah mendapat tepuk tangan yang meriah.
“Kau pantas diberi selamat,” kataku, melihat gairahnya yang meluap-luap.
“Ada kasus Von Bischoff di Frankfort tahun lalu. Ia pasti sudah digantung jika tes ini ada. Kemudian ada Tukang batu dari Bradford, sang terkenal Muller, Lefevre dari Montpellier, dan Samson dari New Orleans. Aku bisa memberi penilaian pada kasus-kasus itu, di mana penilaian itu akan mempengaruhi keputusannya.”
“Kau seperti Kalender Kejahatan berjalan,” kata Stamford tertawa. “Kau mungkin bisa mulai dengan membaca koran di rubrik kriminal. cari saja di surat kabar Police News edisi yang sudah lewat.’”
“Bacaan yang Menarik, bagus juga,” kata Sherlock Holmes, sambil melengketkan potongan kecil plester di jarinya yang luka. “Aku harus hati-hati,” lanjutnya, sambil berbalik tersenyum ke arahku, “karena Aku akan mencoba memercikinya dengan racun.” Ia menahan tangannya sambil bicara, dan benar saja jarinya yang luka tadi dibubuhinya dengan bintik beraneka warna dan dibalut dengan selembar potongan plester, dan dikotori dengan asam kuat.
“Kami datang ke sini untuk sebuah urusan,” kata Stamford, yang sedang duduk di bangku tinggi berkaki-tiga, dan mendorong bangku yang lain ke arahku dengan kakinya. “Temanku ke sini untuk menanyakan sesuatu; dan seperti keluhanmu waktu itu, aku pikir sebaiknya ku jumpakan kalian berdua.”
Sherlock Holmes tampaknya gembira atas gagasan untuk membagi ruangannya dengan aku. “Aku sudah lihat deretan pemukiman di Baker Street,” katanya, “yang akan sesuai untuk kita tempati. Aku harap kau tidak keberatan dengan bau kuat tembakau.”
“Aku selalu merokok,” Jawab ku.
“Itu sudah cukup. Aku biasanya menyimpan bahan-kimia, dan adakalanya mengadakan eksperimen. Apakah itu mengganggumu?”
“Tidak sama sekali.”
“Baiklah, biar aku jelaskan dahulu. Kadang-kadang Aku ingin menyendiri, dan tidak berbicara selama berhari-hari. Jangan kira aku sedang merajuk ketika melakukan itu. Biarkan saja aku sendiri, dan Aku akan segera normal kembali. Apa kau punya keluhan sekarang? Adalah penting bagi dua orang untuk saling mengetahui kebiasan buruk satu sama lain sebelum mereka tinggal bersama.”
Aku tertawa atas tanya-jawab ini. “Aku memelihara anak anjing bull,” kataku, “dan aku keberatan akan adanya hal-hal yang mengejutkan karena aku orangnya panikan, dan aku punya jam-jam untuk gila-gilaan, dan aku orang yang sangat malas. Aku punya sederetan sifat buruk lainnya jika sedang bahagia, tetapi yang tadi itu merupakan hal yang utama sekali.”
“Apakah bermain biola juga termasuk kategori burukmu?” tanyanya, dengan penuh hasrat.
“Tergantung permainanmu,” Jawabku. “Permainan biola yang baik bagaikan persembahan untuk Tuhan dan sebaliknya–”
“Oh, baiklah,” teriaknya, sambil tertawa. “Aku pikir kita bisa pertimbangkan hal tersebut segera setelah kau suka tempatnya.”
“Kapan kita lihat rumahnya?”
“Besok siang, temui aku di sini, dan kita akan berangkat bersama-sama dan menyiapkan segalanya,” jawabnya. “Baiklah, besok siang,” kataku sambil menjabat tangannya. Lalu kami pergi dan meninggalkannya sendiri, bekerja dengan bahan-bahan kimia, dan kami berjalan bersama-sama ke arah hotelku.
“Ngomong-ngomong,” tanyaku tiba-tiba, sambil berhenti dan berputar ke arah Stamford, “bagaimana dia tahu aku pernah ke Afghanistan?”
Rekanku tersenyum enigmatical. “Itu baru sedikit keanehan kecilnya,” katanya. “Sebagian besar orang ingin tahu bagaimana ia menemukan hal-hal tersebut.”
“Oh! sungguh misterius, ya kan?” Aku merinding, sambil menggosok tanganku. “Menarik sekali. Aku berhutang budi kepadamu karena telah menjumpakan kami berdua. ‘untuk mengerti seseorang kita harus langsung bertemu orang itu sendiri,’ ya kan…”
“Kau harus mengerti dia, kemudian,” kata Stamford, seperti menyuruhku mengucapkan selamat jalan.
“Kau akan lihat saja nanti.., dia akan bermasalah lebih dulu. Aku berani bertaruh ia akan memahamimu lebih banyak dibanding kau memahami dia. Good-Bye.”
“Good-Bye,” Jawabku, sambil berjalan ke arah hotelku, sambil memikirkan kenalan baruku.
Bab 2
KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN
KAMI BERTEMU di hari berikutnya seperti yang dia janjikan, lalu kami memeriksa ruangan di rumah No. 221B, Baker Street, yang dibicarakannya waktu itu. Ruangan itu terdiri dari sepasang ruang tidur yang nyaman dan ruang duduk yang lebar dan segar, dilengkapi dengan perabot yang meriah, dan diterangi dengan dua jendela yang lebar. Sungguh mengairahkan, di semua sisi apartemen, dan kelihatannya, suasana rumah tersebut, seperti dibagi dua untuk kami berdua. Perjanjiannya diputuskan setelah kami melihat keadaan ruangannya, dan segera, kamipun membuat persetujuan. Tiap sore aku memindahkan barang-barangku dari hotel, dan paginya Sherlock Holmes membantuku dengan mengangkat beberapa kotak dan portmanteaus. Selama satu atau dua hari kami disibukkan dengan membongkar dan menyusun barang-barang ke tempat yang mudah dijangkau. Setelah selesai, secara berangsur-angsur kami mulai beristirahat untuk mengakomodasi diri kami di lingkungan baru.
Holmes bukanlah orang yang sulit beradaptasi. Ia nyaman dengan kegiatannya, dan kebiasaannya biasa-biasa saja. Adalah jarang baginya beristirahat lewat pukul sepuluh malam, dan sarapan paginya tidak bervariasi dan pergi sebelum aku segar di pagi hari. Kadang-Kadang ia menghabiskan hari-harinya di laboratorium kimia, kadang-kadang di ruang bedah, dan adakalanya berjalan kaki dengan jarak yang jauh, yang menempatkan dirinya di porsi paling rendah di kota besar. Tidak ada yang bisa melebihi energinya ketika dia bekerja dalam kedaan fit; tetapi sesekali reaksinya terlihat, selama berhari-hari ia merebahkan diri di atas sofa di ruang duduk, malas berbicara atau mengerakkan ototnya dari pagi sampai malam. Peristiwa ini, sudah kuduga seperti mimpi, ekspresi kosong di mata nya, seperti kecanduan narkotika, tidak punya emosi dan hasrat hidup dan berfikir merupakan hal yang terlarang.
Setelah minggu-minggu itu lewat, perhatianku terhadapnya dan keingintahuanku akan tujuan hidupnya secara berangsur-angsur medalam dan meningkat. Pribadinya yang berubah dan penampilannya menarik perhatian orang jika dilihat sekilas. Tingginya kira-kira enam kaki lebih, terlalu sering bersandar membuatnya tampak lebih tinggi. Matanya tajam dan menusuk, aman selam aku tidak menyinggungya; dan hidung yang tipis seperti elang memberi ungkapan kesiapsiagaan dan keputusan. Dagunya, juga, telah menonjol dan kepetakan yang menandainya sebagai manusia yang punya ketetapan hati. Tangannya selalu dinodai dengan tinta dan bahan-kimia, sekalipun begitu ia haus akan sentuhan, seperti yang sering ku amati ketika melihat dia memanipulasi instrumen filosofisnya yang mudah pecah.
Barangkali pembaca menganggap keusilanku sia-sia, ketika aku mengaku ingin sekali tahu tentang orang ini, dan betapa seringnya aku mencoba untuk membuatnya bicara tentang semua hal yang terkait dengan keadaannya sekarang. Sebelum memutuskannya, harus diingat bahwa aku tidak bermaksud apa-apa, dan perhatianku hanya sekedar saja. Kesehatanku melarangku untuk berpergian keluar kecuali jika cuaca sedang ramah, dan aku tidak punya teman yang bias dihubungi untuk mengatasi kebosananku sehari-hari. Dalam keadaan seperti ini, aku bernafsu untuk menyalami sedikit misteri yang dialami rekanku, dan menghabiskan banyak waktuku untuk mencoba meluruskan kekusutan yang terjadi.
Ia bukan mahasiswa Kedokteran. Aku bisa bertanya langsung kepadanya perihal pendapat Stamford waktu itu. Tidakkah dia terlihat cocok untuk beberapa cabang ilmu-pengetahuan yang membuatnya pas untuk berijazah sains atau titel lainnya yang memberinya pintu masuk ke dunia terpelajar. Belum lagi semangatnya untuk belajar sungguh luar biasa dan dalam batasan tertentu pengetahuannya sangat luar biasa luasnya serta menit-menit pengamatannya sangat mengejutkan aku. Tentunya tak ada orang yang mau bersusah payah mencapai informasi setepat itu kecuali jika ia telah membayangkan hasil akhirnya. Seseorang yang bacaannya tak teratur sungguh jarang mencapai ketepatan pelajaran mereka. Tidak ada orang yang rela membebani pikirannya untuk berbagai hal kecil kecuali ia punya alasan khusus.
Ketidaktahuannya sama luar biasanya seperti pengetahuannya. Namun untuk literatur kontenporer, politik, dan filosofi ia hampir tidak tahu apa-apa. Atas kutipanku tentang Thomas Carlyle, dengan naif ia menanyakan siapa Thomas Carlyle sebenarnya dan apa yang telah ia dilakukan. Aku sangat terkejut, ketika secara kebetulan tahu bahwa ia tidak tahu tentang Teori Copernican dan komposisi Solar Sistem. Bagaimana bisa seseorang manusia yang hidup di abad ke-19 ini tidak tahu bahwa bumi mengelilingi matahari… Perihal itu meyakinkanku akan keluarbiasaaannya yang sulit dimengerti.
“Kau tampak heran,” katanya, tersenyum karena ungkapan terkejutanku. “Sejak aku mengetahuinya aku berupaya maksimal mungkin untuk melupakannya.”
“Untuk melupakannya!”
“Kau tahu,” ia menerangkan, “Aku menganggap bahwa otak manusia mula-mula seperti loteng (attic) kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan mebel pilihanmu. Suatu kebodohan jika mengambil semua kayu dari tiap-tiap potongan yang ia lewati, sedemikian hingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya jadi terdesak, atau paling tidak mencampuradukkan nya dengan banyak hal-hal lain, sehingga ia kesukaran untuk berkutat di dalamnya. Sekarang, pekerja yang penuh dengan keahlian sangat berhati-hati akan apa yang dia masukkan ke brain-attic nya. Ia tak akan punya apapun selain perkakas yang bisa membantu dalam pekerjaannya, terlepas dari ini ia punya bermacam-macam peralatan, dan semua berada pada urutan yang sangat tepat. Keliru untuk berpikir bahwa sedikit ruang itu punya dinding elastis yang dapat bergelembung menjadi besar. Tergantung pada setiap penambahan pengetahuannya sehingga kau melupakan sesuatu yang kau ketahui sebelumnya. Ini sangat penting sekali, oleh karena itu, tidak ada fakta yang berguna untuk memaksa hal yang bermanfaat itu keluar.”
“Tetapi Solar Sistem!” Aku memprotes.
“Apa ada yang salah dengan saya?” ia menyela dengan tidak sabar: “kau berkata bahwa kita mengelilingi matahari. Jika kita berkeliling bulan tidak akan membuat perbedaan terhadap pekerjaanku.”
Aku nyaris menanyakan apa yang ia kerjakan, tetapi sesuatu menunjukkanku bahwa pertanyaan itu akan menyinggungnya. Aku merenungkan percakapan singkat kami dan mencoba untuk menggambarkan kesimpulannya. Katanya bahwa ia tidak akan memperoleh pengetahuan akan objek yang tidak ia kerjakan. Oleh karena itu semua pengetahuan yang ia memiliki sepertinya akan berguna bagi dia. Aku menyebutkan satu-persatu dalam pikiranku tentang semua poin-poin yang ia tunjukkan yang mana membuktikan kepadaku bahwa ia sangat berpengetahuan luas. Aku bahkan mengambil pensil dan mencatatnya. Aku tidak bisa tersenyum atas catatan yang telah ku selesaikan. Isi catatannya seperti ini:
Sherlock Holmes - batas kemampuannya
1. Pengetahuan tentang literature. - Nol.
2. ” ” ” Filosofi. - Nol.
3. ” ” ” Astronomi. - Nol.
4. ” ” ” Politik. - Lemah.
5. ” ” ” Ilmu tumbuh-tumbuhan. - Bervaiasi. Ahli dalam belladonna, candu, dan racun umum. Tidak tahu apapun tentang cara berkebun.
6. ” ” ” Geologi. - Teknis, tetapi terbatas. Dapat menjelaskan perbedan antara tanah satu dan lainnya. Setelah mondar-mandir dia memperlihatkan kepadaku noda tanah di celana panjangnya, dan menceritakan kepadaku akan warna dan konsistensinya dengan daerah London dimana dia memperoleh noda itu.
7. ” ” ” Kimia. - Sangat ahli.
8. ” ” ” Anatomi. - Akurat, tetapi tidak sistimatis.
9. ” ” ” Literatur Berita Sensasional. - Luas Sekali. Ia kelihatannya tahu setiap detil cerita horor di abad ini.
10. Bermain Biola dengan baik.
11. Ahli dalam pemainan singlestick, tinju, dan ahli anggar.
12. Punya pengetahuan teknis yang baik tentang hukum Britania.
Ketika sudah sejauh ini, daftar yang ku buat, aku melempar ke dalam api dalam keputusasaan. “Jika saja aku bisa temukan pemicu yang mengaitkan semuanya kecakapannya, dan menghubungkan semuanya,” Aku berkata kepada diriku sendiri, “Aku bisa saja segera menyerah .”
Aku merasa iri atas kekuasaannya dengan biola. Ini sangat luar biasa, tetapi sama anehnya dengan semua kepandaiannya yang lain. Ia bisa memainkan bagian-bagian lagu yang sulit, aku tahu tentang bagian-bagian yang sulit itu karena aku yang mintanya memainkan bagian lagu itu, seperti lagu Lieder Mendelssohn dan lagu-lagu favorit lainnya. Ketika membiarkannya bermain, jarang terdengar bunyi yang sumbang. Pada suatu malam ia bersandar di kursi lengan, ia memejamkan mata dan dengan sembarang menggesek-gesek serta melemparkan biola ke seberang lututnya sendiri. Kadang-kadang bunyinya menjadi nyaring lagi merdu dan merobek-robek jiwa. Adakalanya bunyinya gembira dan fantastik. Jelas sekali mencerminkan pemikiran yang dimilikinya, tetapi apakah musik dirasuki pemikirannya, atau permainan sederhananya adalah hasil dari tingkah atau fantasi belaka, di luar kemampuanku untuk memutuskannya. Ingin sekali aku berontak terhadap permainan tunggalnya yang menjenkelkan, yang mengakhiri permainannya dengan tempo cepat di bagian lagu yang kusenangi, sebagai sedikit bayaran atas kekesalanku.
scar3
Sepanjang minggu pertama atau kira-kira begitu, kami tidak kedatangan tamu, dan aku mulai berpikir bahwa rekan ku tak punya teman sama seperti diriku. Ternyata aku salah, rupanya dia punya banyak kenalan, dan mereka berada pada kelas sosial yang berbeda-beda. Ada yang wajahnya sedikit pucat, mukanya seperti tikus, bermata gelap, yang diperkenalkannya kepada ku sebagai Mr. Lestrade, yang datang tiga atau empat kali dalam seminggu ini. Satu pagi seorang gadis muda datang ke rumah kami, berpakaian sesuai dengan mode, dan mampir selama setengah jam atau lebih. Sore yang sama datang seorang yang berkepala coklat, berbiji banyak, seperti penjaja perhiasan, datang kepadaku dengan penuh gairah, dan diikuti oleh perempuan lebih tua tak terurus. Pada kesempatan lain pria tua beruban datang untuk diwawancarai oleh rekanku; dan pada hari lainnya, kuli pengangkut barang di kereta api dengan seragamnya berbeludru katun. Ketika siapapun dari mereka berkunjung, Sherlock Holmes biasanya memintaku agar mereka bisa mengunakan ruang duduk, dan aku undur diri ke ruang tidurku. Ia selalu minta maaf padaku untuk ketidaknyamanan ini. “Aku harus menggunakan ruang ini sebagai tempat bisnis,” katanya, “dan orang-orang ini adalah klienku.” Lagi-lagi aku punya kesempatan untuk menanyakannya, pertanyaan terus terang, dan lagi-lagi perasaanku mencegahku untuk memaksa orang menceritakan rahasianya kepadaku. Aku membayangkan suatu saat ia punya alasan kuat untuk tidak menyinggung masalah itu, tetapi ia segera merubah arah pembicaraan kami.
Saat itu tanggal 4 Maret, sepertinya aku punya alasan bagus untuk mengingatnya, bahwa aku bangun lebih awal dari biasanya, dan Sherlock Holmes pun masih belum menyelesaikan sarapannya. Wanita pemilik pondokan sudah sangat terbiasa atas kebiasaanku akhir-akhir ini sehingga di tempatku di meja makan belum tersedia kopi. Dengan sifat dasar manusia yang cepat marah, tanpa alasan aku menekan tombol bell dan memberi tanda kasar bahwa aku sudah siap. Kemudian aku mengambil majalah dari meja dan mencoba menghabiskan waktuku dengannya, selagi rekanku mengunyah roti panggangnya dalam kesunyian. Salah satu artikelnya sudah ditandai dengan pensil pada bagian judulnya, dan secara alamian mataku mulai meliriknya.
Entah bagaimana aku bias merasa ambisius, artikelnya berjudul “Buku Kehidupan,” dan artikel itu mencoba untuk menunjukkan seberapa banyak seorang obeservator belajar dari pengujin sistematis dan akurat hingga mencapai hasilnya. Hal itu menarik perhatianku seperti percampuran hebat antara ketajaman pikiran dan kemustahilan. Inti pokok tulisan ini begitu dekat dan kuat, tetapi deduksi pengambilan keputusannya kelihatan berlebihan dan dibuat-buat. Penulis mengklaim dengan ungkapan sesaat, kejangan otot atau kerlingan mata, untuk mengukur pemikiran paling dalam manusia. Penipuan, menurut dia, adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi pada orang yang dilatih untuk berobservasi dan menganalisis. Kesimpulannya sama sempurnanya dengan dalil-dalil Euclid. Sangat mengejutkan hasilnya bagi orang yang belum tahu hingga mereka mempelajari prosesnya dan mengambil kesimpulan bahwa ternyata penulis adalah seorang ahli nujum.
“Dari tetesan air,” penulis berkata, “Ahli logika bisa menyimpulkan kemungkinan Lautan Atlantik atau Niagara tanpa melihat atau mendengar salah satunya. Maka seluruh kehidupan merupakan rangkaian yang besar, dan alam sebagai mata rantai tunggalnya. Seperti halnya seni yang lain, Konsep Pengambilan Keputusan dan Analisis adalah suatu yang hanya bisa diperoleh dengan studi yang panjang dan sabar, Sekalipun hidup cukup panjang untuk mengizinkan bagi setiap makhluk mencapai kemungkinan kesempurnaan yang paling tinggi. Sebelum mulai mempertimbangkan aspek mental dan moral dari suatu masalah yang menyajikan berbagai kesulitan besar, biarkan penyelidik dimulai terlebih dahulu sebagai elemen utama permasalahan. Biarkan dia berada pada pertemuan antara kehidupan dan pendukungnya, dan dengan sekejap mengerti akan hal yang mencirikan sejarah manusia, perdagangan atau profesi lainnya yang menjadi pembentuknya. Akan terlihat seperti anak-anak yang sedang berlatih mempertajam pancaindera, pengamatan, dan belajar apa yang harus dilihat dan apa yang dicarinya. Menggunakan kuku, mantel berlengan, sepatu boot, celana ponggol, kepalantangan, ungkapan, atau dengan menyingsingkan lengan baju. Hal-hal tersebut merupakan panggilan jiwa manusia yang bisa dengan sederhana diungkapkan. Semua itu perlu dipersatukan untuk menerangi penyelidikan yang berkompeten untuk dipertanyakan, setidaknya kasus yang hampir tidak dapat dipecahkan.”
“Omong kosong macam apa ini!” Teriakku, menampar majalah ke atas meja; “Seumur hidupku, aku belum pernah membaca sampah semacam ini.”
“Ada Apa?” tanya Sherlock Holmes.
“Kenapa, artikel ini,” kataku, menunjuk artikel itu dengan sendok telurku sambil makan sarapanku. “Ku rasa kau sudah membacanya karena kau yang menandainya. Aku tidak menyangkal artikel ini ditulis dengan baik. Meskipun menggangguku. Itu jelas teori orang malas yang menggabungkan sebagian kecil saduran paradox studinya sendiri dengan rapi. Cuma sekedar teori. Aku bisa membayangkan dia ditepuki tangan di atas kereta bawah tanah Kelas-Tiga, dan dimintai tanda tangan oleh semua penumpang. Mungkin seribu orang.”
“Kau akan kehilangan uangmu,” Holmes berkata dengan santai. “Untuk artikel ini, aku yang menulisnya.”
“kau!”
“Ya; Aku berminat akan pengamatan dan pengambilan keputusan. Teori yang aku tulis di artikel itu, dan yang bagimu begitu mengada-ada, sungguh sangat nyata dan praktis. Dan aku bergantung padanya untuk mengisi perutku.”
“Dan bagaimana?” Aku bertanya tidak dengan sukarela.
“Well, aku punya perdagangan sendiri. Dan ku kira, cuma aku satu-satunya di dunia ini. Aku adalah konsultan detektif, jika kau mengerti apa itu konsultan detektif. Di sini, di London, ada detektif-pemerintah dan detektif-swasta. Ketika klienku dalam posisi bersalah, mereka datang kepadaku, dan ku atur agar mereka berada di pihak yang benar. Mereka meletakkan semua bukti di hadapanku, dan dengan berbekal pengetahuan akan sejarah kriminal, biasanya aku bersedia membantu mereka. Ada hubungan kuat yang terbentuk dari hal-hal aneh ini, dan jika kau punya semua detilnya, adalah aneh jika kau tidak bisa meluruskan kekusutan yang terjadi. Lestrade adalah detektif terkenal. Ia memecahkan kasus pemalsuan yang baru-baru ini terjadi, dan hal itulah yang membawanya ke sini.”
“Dan orang-orang ini?”
“Kebanyakan, mereka dikirim oleh para agen penyidik swasta. Mereka semua adalah orang-orang yang bermasalah dan ingin sedikit penerangan. Aku mendengarkan cerita mereka, mereka mendengarkan komentarku, dan kemudian aku terima bayaran dari mereka.”
“Dengan kata lain,” kataku, “tanpa meninggalkan ruangmu kau dapat memecahkan misteri yang terjadi dimana orang lain tidak dapat melakukannya, walaupun mereka sudah melihat setiap detilnya?”
“Benar sekali. Aku rasa begitu. Se-sekali beberapa kasus bisa menjadi sedikit lebih rumit. Kemudian aku harus turun-tangan sendiri. Kau lihat sendiri aku punya banyak pengetahuan khusus dimana pengethuanku itu kuterapkan ke kasus-kasus mereka, sebagai fasilitator berbagai hal yang amat berguna. Konsep Pengambilan Keputusan di dalam artikel yang kau ejek itu tidak ternilai manfaatnya bagiku. Bagiku, observasi adalah sifat dasar yang kedua. Kau pasti terkejut ketika aku mengatakan, pada pertemuan pertama kita, bahwa kau pernah ke Afghanistan.”
“Kau sudah diberitahu, ya kan…”
“Tidak…, Aku tahu kau pernah ke Afghanistan dari kebiasaan lama, dari cara berfikir yang dengan cepat sampai ke pikiranku bahwa aku tiba pada kesimpulan tanpa menyadari akan langkah-langkah intermediate. Ada beberapa langkah. Deretan pemikirannya begini, ‘Ada orang bertipikal medis di sini, namun dengan aura militer. Kemudian dengan jelas bisa disimpulkan bahwa dia seorang dokter angkatan perang. Ia baru datang dari dari daerah tropis, karena mukanya gelap, dan warna kulitnya tidak alami, dan juga pergelangan tangannya kasar. Ia pernah mengalami sakit dan penderitaan, sebab mukanya yang kurus dan pucat mengatakannya dengan jelas. Lengan kirinya pernah terluka. Ia memegangi nya dengan cara yang tak wajar dan kaku. Di daerah mana seorang dokter angkatan perang Inggris bisa begitu banyak mengalami penderitaan dan luka ditangan? Jelas sekali di Afghanistan.’ Keseluruhan deretan pikiran tidak terjadi tiba-tiba. Dan kemudian aku berkata bahwa kau datang dari Afghanistan, dan kau terkejut.”
“Sederhana sekali kau menjelaskannya,” Kataku, tersenyum. “Kau mengingatkanku kepada Edgar Allan Dupin Poe. Aku tidak menyangka orang seperti itu ada di luar cerita.”
Sherlock Holmes bangkit dan menyalakan pipanya. “Kau pasti berpikir seperti itu, kau memujiku dengan membandingkanku dengan Dupin,” ia mengamati. “Sekarang, menurut pendapatku, Dupin berada ditingkat yang lebih rendah. Muslihatnya disesuaikan pada pemikiran temannya dengan suatu komentar yang cocok setelah seperempat jam kesunyian, sungguh mengesankan. Ia memiliki semacam kemampuan analitis yang genius, tidak diragukan lagi; tetapi Poe sama sekali tidak punya alat seperti fenomena untuk dibayangkan.”
“Sudahkah kau membaca tentang pekerjaan Gaboriau?” Tanyaku. “Apakah Lecoq menginspirasimu untuk menjadi detektif?”
Sherlock Holmes mengendus-endus dengan sinis. “Lecoq adalah pekerja sembrono yang menyedihkan,” katanya, dengan suara marah; “hanya ada satu hal untuk merekomendasikannya, dan itu adalah energi nya. Buku itu membuatku berpenyakit positif. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengidentifikasi narapidana tak dikenal. Aku bisa melakukannya dalam waktu 24 jam. Lecoq memerlukan waktu sekitar enam bulan. Waktu selama itu bisa dimanfaatkan untuk membuat buku panduan detektif untuk mengajarkan mereka apa yang harus dihindari.”
Aku merasa agak marah atas komentar dua karakter itu setelah aku diperlakukan dengan hormat dengan gaya militer. Aku berjalan ke jendela dan berdiri sambil melihat-lihat ke arah jalan yang ramai. “Orang ini sungguh pandai,” Aku berkata kepada diriku, “tetapi ia pasti sangat angkuh.”
“Tidak ada kejahatan dan tidak ada penjahat di masa-masa sekarang,” katanya, dengan bersungut-sungut. “Apa gunanya punya otak dalam profesi kami? Aku tahu bahwa aku memilikinya dan hal itu bisa membuat namaku terkenal. Tidak pernah ada orang yang punya bakat alam dan mendalami ilmu untuk medeteksi yang sama seperti yang aku lakukan. Dan apa hasilnya? Tidak ada kejahatan untuk dideteksi, atau dengan kata lain, kebanyakan kejahatan yang terjadi tak terencana dengan motif yang sangat transparan bahkan seorang petugas Scotland Yard dapat melihatnya.”
Aku masih terganggu atas kata-katanya yang sombong itu. Ku pikir lebih baik mengubah arah pembicaraan.
“Aku ingin tahu apa yang orang-orang itu cari?” tanyaku, menunjuk ke seseorang yang berpakaian sederhana berjalan pelan di sepanjang seberang jalan, perhatiannya tertuju pada nomor-nomor rumah. Ia memegang amplop besar berwarna biru, dan jelas sekali pembawa pesan.
“Maksudmu pensiunan sersan Marinir,” Kata Sherlock Holmes.
“Sombong sekali!” pikir ku. “Ia tahu bahwa aku tidak bisa memverifikasi terkaannya.”
Sulit diterima pikiranku ketika orang yang sedang kami perhatikan melihat ke arah nomor rumah kami, dan dengan cepat berlari menyeberangi jalan. Kami mendengar ketukan nyaring, lengkingan suara dari bawah, dan langkah-langkah berat menaiki tangga.
scar4
“Untuk Mr. Sherlock Holmes,” katanya, masuk ke ruangan dan memberi temanku surat.
Ini merupakan kesempatannya untuk menyombongkan diri. Ia akan heran jika tembakannya ngawur. “Bolehkah aku bertanya, kawan,” kataku, dengan suara lembut, “Apa pekerjaanmu?”
“Komisaris, Pak,” katanya, dengan keras. “Seragamku sedang diperbaiki.”
“Dan kau adalah?” tanyaku, dengan pandangan sedikit dengki pada rekanku.
“Sersan, pak, Royal Marine Light Infantry, pak. …Tidak ada jawaban? …Baiklah, pak.”
Ia meng-klik tumitnya bersama-sama, mengangkat tangannya untuk memberi hormat, dan pergi.
Bab 3
MISTERI LAURISTON GARDEN
KU AKUI bahwa aku sangat terkejut atas bukti segar dari teori kegunaan bakat temanku ini. Rasa hormatku akan kehebatan analisanya meningkat secara menakjubkan. Masih tertinggal beberapa kecurigaan tersembunyi di dalam pikiranku, bagaimanapun, keseluruhan peristiwa tadi adalah peristiwa yang sudah diatur sebelumnya, bertujuan untuk membuatku terpesona, meskipun demikian untuk apa ia membuatku terpesona. Ketika aku memperhatikan dia; ia selesai membaca surat tadi, dan matanya mengasumsikan kekosongan, ungkapan bingung yang menunjukkan abstraksi mental.
“Apa yang membuatmu bisa tahu?” Tanyaku.
“Bisa tahu apa?” kata nya, dengan tidak sabar.
“Bisa tahu bahwa ia adalah pensiunan sersan Angkatan laut.”
“Aku tidak punya waktu untuk hal sepele ini,” ia menjawab, dengan kasar; kemudian tersenyuman, “Maafkan kekasaranku tadi. kau mengacaukan pemikiran ku; tetapi tidak apa-apa. Jadi kau benar-benar tidak bisa lihat bahwa dia seorang sersan Marinir?”
“Tidak, tentu saja tidak.”
“Lebih mudah menjelaskan cara melihatnya daripada menjelaskan mengapa aku bisa tahu. Jika kau diminta untuk membuktikan angka dua dan angka dua dibuat menjadi empat, kau mungkin akan kesusahan, tetapi kau cukup yakin hal yang menyangkut fakta. Bahkan di seberang jalan pun aku bisa lihat tato jangkar biru tua di tangannya. Yang menandakan kelautan. Ia membawa paket dari militer, ditambah lagi jambang yang merupakan praturan militer. Dan kita simpulkan bahwa ia seorang marinir. Ia adalah pria dengan sejumlah beban tugas dan perintah tertentu. kau harus mengamati caranya mengadakan kepalanya dan mengayunkan tongkatnya. Sigap, penuh hormat, setengah baya, juga, semua fakta di raut wajahnya yang membuatku yakin bahwa ia pernah berpangkat sersan.”
“Mengagumkan!” kataku dengan tiba-tiba.
“Biasa saja,” kata Holmes, meskipun demikian, kalau dilihat dari ekspresinya, ku pikir dia senang atas penghormatan dan keterkejutanku. “Aku baru saja berkata tidak ada penjahat. Nampaknya aku salah soal ini!” Ia melemparkan padaku surat yang dibawa komisaris tadi.
“Kengapa,” Aku berteriak, ketika menatapnya, “mengerikan kah?”
“Sepertinya sedikit tidak wajar,” katanya, dengan santai. “Maukah kau membacanya dengan suara keras untukku?”
Dan kemudia aku membacakan surat itu untuknya,-
“YTH. MR. SHERLOCK HOLMES: “Telah terjadi hal buruk pada pukul 3 dini hari, di Lauriston Garden, di Brixton Road. Orang kami telah melihat cahaya sekitar pukul 2 pagi ini, dan sebagai mana mestinya rumah itu selalu kosong, diduga telah terjadi sesuatu yang mencurigakan. Pintunya ditemukan terbuka, dan di ruang depan yang berisikan furnitur, diemukan sesosok mayat pria, berpakaian dengan baik, dan di dalam sakunya ditemukan sebuah kartu identitas yang menerangkan nama; Enoch J. Drebber, Cleveland, Ohio, U. S. A. Tidak ada tanda-tanda perampokan, maupun bukti yang menerangkan bagaimana kematiannya. Ada darah di dalam ruang, tetapi tidak ada luka pada korban. Kami bingung bagaimana ia bisa datang ke rumah yang kosong itu; sungguh, keseluruhan perkara menjadi teka-teki. Jika anda sempat berkunjung ke tempat kejadian perkara sebelum pukul 12, anda akan menemukan saya di sana. Saya sudah melampirkan segalanya dalam paket ini sampai saya mendengar kesediaan anda. Jika anda berkendala untuk datang, saya bersedia menyanggupi pebayaran penuh untuk anda, dan kami akan sangat menghargai kebaikan anda jika anda berkenan memberikan pendapat kepda kami.
“Hormat kami, “TOBIAS GREGSON.”
“Gregson adalah orang yang paling pandai di Scotland Yarders,” kata temanku; “Dia dan Lestrade sering berselisih. Kedua-duanya begitu cakap dan enerjik, tetapi kelewat-kolot. Mereka juga sanggup mencederai satu sama lain. Mereka saling cemburuan satu sama lain dalam hal pekerjaan. Mereka berdua akan sangat gembira jika diberikan kasus ini.”
Aku kagum atas sikap tenang yang ia tampilkan. “Tak ada waktu untuk bingung,” Aku berteriak; “haruskah aku menyetopkan untukmu kereta kuda?”
“Aku tidak yakin apakah aku harus pergi. Aku seperti kerasukan setan malas yang pernah berdiri di sepatu kulitku, di saat ketika aku memutuskan, untuk bersemangat pada waktunya.”
“Kenapa?, ini kan kesempatan yang kau tunggu-tunggu.”
“Temankuku yang baik, apa itu berarti bagiku? Serkiranya aku memecahkan keseluruhan kasus, kau mungkin yakin pasti Gregson, Lestrade, dan Co. akan mengantongi semua imbalannya. Mereka bisa menjadi seperti orang pasaran.”
“Tetapi ia memintamu untuk membantunya.”
“Ya. Dia tahu bahwa aku lebih baik dari nya, dan dia mengakuinya; tetapi ia akan memotong lidahnya ke luar sebelum ia meminta bantuan orang ke tiga. Walaupun begitu, kita sebaiknya pergi dan melihatnya sendiri. Aku akan mengerjakannya dengan caraku sendiri. Aku mungkin akan ditertawakan mereka, jika tidak mendapatkan petunjuk apa-apa. Ayo pergi!”
Ia buru-buru pada meraih mantelnya, dan sibuk menunjukkan bahwa sesuatu yang enerjik bisa mengalahkan sikap masa bodoh.
“Pakai topimu,” katanya.
“Kau ingin aku ikut?”
“Ya, kalau kau tidak sibuk.” Suatu menit kemudiannya kami sudah terlihat tampan, mengemudi sepanjang Brixton Road sambil marah-marah.
Hari itu pagi yang berkabut, dan puncak atap rumahnya diselubungi warna aneh yang mengganggu, menyerupai pemantulan warna lumpur dari jalanan. Rekanku dalam keadaan bersemangat, dan mengoceh tentang gesekan biola Cremona dan perbedaan antara Stradivarius dan Amati. Aku hanya duduk dengan tenang, karena cuaca yang membosankan dan bisnis melankolis yang membuat semangatku tertenekan.
“Sepertinya kau tidak dibebani pikiran atas kasus yang sedang kau tangani,” Pada akhirnya aku berkata, menyela uraian musik Holmes.
“Belum ada data,” ia menjawab. “Adalah keliru besar untuk berteori sebelum kita memiliki semua bukti. Bisa menimbulkan keputusan yang menyimpang.”
“Sebentar lagi juga dapat,” kataku, menunjuk dengan jari ku; “Ini Brixton Road, dan itu rumahnya, jika perkiraan ku tidak salah.”
“Ok… Stop, pak kusir, stop!” Kami masih kira-kira seratus yard, tetapi dengan tegas ia meminta untuk berhenti, dan kami melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki.
Rumah Nomor 3, Lauriston Garden menyandang predikat buruk dan menyeramkan. Satu dari empat jalan setapak tersambung dengan jalan besar, dua sedang ramai dan dua lagi sedang kosong. Kemudian terlihat tiga deret jendela sayu terbuka, kosong dan suram, mengayun kesana-kemari “dibiarkan begitu saja” dan terlihat kartu mengembang seperti katarak di atas kaca buram. Pekarangan kecil ditaburi dengan sebaran tumbuh-tumbuhan mati yang memisahkan masing-masing rumah dengan jalan, dan dilintasi oleh jalan kecil sempit, berwarna kekuning-kuningan, dan berisikan campuran tanah liat dan kerikil. Keseluruhan tempat sangat becek disebabkan hujan semalam. Kebun dibatasi oleh tiga-sisi dinding batu bata dengan pinggiran kayu memagari puncak tembok, dan dibalik dinding ini sedang bersandar informan polisi, dikelilingi oleh sekumpulan kecil pemalas, yang menjulurkan leher mereka dan membelalakkan mata mereka demi harapan sia-sia untuk memperoleh beberapa kesalahan kerja.
Aku bisa membayangkan Sherlock Holmes akan bergegas menuju rumah dan langsung terjun menyelidiki misteri ini. Tak terlihat hal lain yang menghambat niatnya. Dengan sikap tidak ambil pusing dengan situasi sekitar, dalam keadaan seperti ini, menurutku tak ada penghalang, ia bergerak naik turun di trotoar, dan menatap hampa ke arah tanah, langit, rumah, dan baris terali pagar. Setelah menyelesaikan penelitiannya dengan cermat, ia meneruskan pelan-pelan sepanjang jalur, atau memandang agak ke bawah sepanjang pinggiran rumput, terus memperhatikn tanah. Dua kali ia berhenti, dan sesekali ku lihat dia tersenyum, dan mendengarnya mengucapkan seruan kepuasan. Ada banyak jejak kaki atas lahan yang basah; tetapi karena polisi sudah lalu lintas di sekitar sini, aku tidak dapat melihat bagaimana rekanku bisa berharap mengetahui sesuatu dari kondisi ini. Meski demikian aku sudah melihat bukti yang nyata menyangkut kecakapan perpancainderanya, yang tidak ku ragukan lagi bisa melihat sebagian besar yang hal tak mampu kulihat.
Di ambang pintu rumah, kami berhadapan dengan sesosok manusia jangkung, pucat pasi, berambut pirang, sambil memegang sebuah buku catatan, yang terburu-buru menjabat tangan rekanku dengan keras. “sungguh baik sekali kau mau datang,” katanya, “Aku sudah memastikan segala yang tertinggal agar tidak tersentuh.”
“Kecuali itu!” jawab temanku, menunjuk ke lorong. “Jika sekumpulan kerbau liar ini belum pergi, mereka akan membuat lebih banyak sampah lagi. Tidak diragukan lagi, walaupun begitu, kau mungkin sudah menggambarkan kesimpulanmu sendiri, Gregson, sebelum kau diizinkan.”
“Aku sudah melakukan banyak hal di rumah ini,” kata detektif itu mengelak. “Rekan kerjaku, Mr. Lestrade, ada di sini. Aku mempercayakan dia untuk menjaga ini.”
Holmes melihatku sekilas dan mengangkat alisnya dengan sinis. “Dengan dua manusia seperti kau dan Lestrade disekitar lantai, sedikit sekali kesempatan kita untuk menemukan petunjuk-petunjuknya,” katanya.
Gregson menggosok-gosok tangannya dengan lega. “Aku pikir kami sudah melakukan semua yang kami bisa,” jawabnya; “ini kasus yang aneh, meskipun begitu, aku percaya akan kebolehanmu menangani kasus seperti ini.”
“Kau datang ke sini dengan kereta kuda?” tanya Sherlock Holmes.
“Tidak, sir.”
“Lestrade juga tidak?”
“Tidak, sir.”
“Mari kita lihat ruangnya.” Dengan komentar yang tidak konsekuen ia melangkah ke dalam rumah dan diikuti oleh Gregson, yang mukanya nampak keheranan.
Jalan pintas yang pendek, dilapisi oleh papan dan berdebu, menuju dapur dan ruang kerja. Dua pasang daun pintu terbuka di kiri dan kanan. Salah satunya selalu tertutup selama beberapa minggu. Ruang lainnya merupakan ruang makan, ruang di mana kejadian misterius ini terjadi. Holmes masuk, dan aku mengikutinya dengan perasaan lemah di hatiku seperti kematian sedang mengawasi.
Ruang itu petak dan besar, terlihat lebih besar jika tidak dihiasi semua furnitur. Kertas yang melebar vulgar menghiasi dinding, namun sudah ditumbuhi jamur, dan di sana sini banyak yang sudah terkelupas dan tergantung, memperlihatkan plester kuning di belakangnya. Di seberang pintu terlihat perapian yang mengesankan, dikelilingi tungku lempengan yang terbuat dari pualam putih tiruan. Di salah satu sisnya tertancap lilin merah. Jendela yang tertutup terlihat sangat kotor membuat cahaya menjadi kusam dan samar-samar, memberi sedikit warna kelabu jemu ke segala tempat, yang diperkuat dengan adanya lapisan debu yang tebal yang melapisi keseluruhan apartemen.
Setelah semua detil selesai aku amati. Sekarang perhatianku aku pusatkan pada satu hal, suram, figur tak bergerak berbaring telentang di atas lantai papan, mengangak keatas, menatap ke arah langit-langit yang kotor. Orang ini berumur sekitar 46 atau 44 tahun, badan berukuran sedang, berbahu lebar, dengan rambut hitam keriting, dan pendek, Berjenggot pendek. Ia berpakaian baju tenunan, mantel berat, dan rompi, dengan celana panjang berwarna cerah, dan krag baju dan lipatan lengan tak bernoda. Topi tinggi, di sikat dengan baik dan garis hiasan, diletakkan di atas lantai di sampingnya. Tangannya mengepal tinju dan lengannya jatuh ke lantai, selagi tungkai lengannya terapit, seolah-olah perjuangannya melawan kematian begitu memilukan. Mukanya yang kaku mengekspresikan kengerian, dan, menurutku, kebencian, tidak seperti mansia pada umumnya. Hal yang membahayakan adalah tubuh yang mulai membusuk, mengkombinasikan dengan dahi yang menguak, hidung bonyok, dan rahang prognathous, memberi orang mati simious ganjil dan penampilan seperti kera, yang membuat penderitaannya menjadi-jadi, perawakan tak wajar. Aku sudah pernah melihat kematian dalam banyak bentuk, tetapi belum pernah kulihat yang menakutkan seperti ini ditambah lagi suasana gelap, apartemen kotor, yang sering terlihat di jalan utama pinggiran kota London.
scar5
Lestrade, kurus seperti musang, sedang berdiri di jalan menuju pintu, dan menyambut aku dan rekanku.
“Kasus ini akan membuat kegemparan, sir,” katanya. “Kasus ini membuatku bingung, dan aku tidak punya ide lagi.”
“Apa ada petunjuk?” kata Gregson.
“Tidak sama sekali,” Kata Lestrade setuju.
Sherlock Holmes mendekati mayat itu, dan, berlutut, menganalisanya dengan sungguh-sungguh. “kau yakin tidak ada luka?” tanyanya, menunjuk sejumlah tanda darah yang berada di sekitarnya.
“Ya!” keluh kedua detektif tersebut.
“Mungkin saja darah itu kepunyaan orang kedua yaitu pembunuhnya, jika pembunuhan memang terjadi. Hal ini mengingatkanku tentang kondisi yang menyertai kematian Van Jansen, di Utrecht, pada tahun ‘34. Apa kau ingat kasus itu, Gregson?”
“Tidak ingat, tuan.”
“Kau benar-benar perlu membacanya. Tidak ada hal yang baru di bumi ini. Semuanya pernah terjadi sebelumnya.”
Selagi ia bicara, jarinya dengan cepat dan cekatan terbang ke mana-mana, merasakan, menekan, membuka kancing, menguji, Sementara itu matanya menungkapkan ekspresi yang sama seperti yang pernah ku lihat. Cepat sekali pengujian yang di lakukannya, yang satu ini susah ditebak ketelitian yang mana yang dipakai. Akhirnya, ia mengendus-endus bibir mayat, dan kemudian melihat sekilas tapak kaki sepatu bootnya yang berliris kulit.
“Dia belum digerakkan sama sekali?” tanyanya.
“Tidak lebih dari sekedar kepentingan pengujian kami.”
“kau bisa membawanya ke kamar mayat sekarang,” katanya. “Tidak ada lagi yang bisa kita dipelajari.”
Gregson bergerak dan memanggil empat orang bawahannya. Begitu mendengar panggilan, mereka langsung masuk ke ruangan, dan orang asing itu diangkat serta dibawa keluar. Ketika mereka mengangkat mayat itu, sebuah berdering cincin mengelinding menyeberangi lantai. Lestrade merebutnya, dan matanya terlihat bingung dan terbelalak melihat cincin itu.
“Pernah ada perempuan di sini,” teriaknya. “Ini cincin kawin yang dipakaikan untuk wanita.”
Selagi ia berbicara, tangannya menengada sambil menunjukkan benda itu. Kami semua berkumpul mengelilinginya dan mengamati benda itu. Tak diragukan lagi, itu cicin emas yang menghiasi jari seorang pengantin perempuan.
“Ini masalah yang rumit,” kata Gregson. “Hanya Tuhan yang tahu, serumit apa mereka sebelumnya.”
“Kau yakin benda ini akan menyederhanakan masalah kita?” Holmes mengamatinya. “Tak ada paetunjuk dari benda ini. Apa yang kau temukan di sakunya?”
“Sudah kami amankan semuanya,” kata Gregson, menunjuk ke tumpukan objek yang ada di tangga. “Arloji emas, No. 97163, buatan Barraud, dari London. Kalung emas Albert yang berat dan padat. Cincin emas, dengan benda seperti jimat. Bros emas berkepala bull dog, dengan batu delima seperti mata. Cardcase kulit dari Rusia, dengan kartu tanda pengenal bertuliskan Enoch J. Drebber dari Cleveland, berhubungan dengan tulisan E. J. D. di bagian garisnya. Tidak ada dompet, namun kehilangan uang sejumlah tujuh pounds tigabelas sen. Decameron Boccaccio berukuran kecil dengan nama Joseph Stangerson di halaman depan buku. Dua surat, yang satunya beralamatkan E. J. Drebber dan satu lagi Joseph Stangerson.”
“Dialamatkan ke mana?”
“American Exchange, dikapalkan untuk ditinggalkan hingga ada panggailan. Kedua surat ini berasal dari Guion Steamship Company, yang memberangkatkan kapal mereka berlayar dari Liverpool. Jelas sekali orang malang ini ingin kembali ke New York.”
“Sudahkah kau periksa orang yang bernama Stangerson ini?”
“Sudah, sir,” kata Gregson. “Aku sudah pasang iklan ke semua surat kabar, dan salah satu anak buah saya sudah pergi ke American Exchange, tetapi ia belum kembali.”
“Sudahkah mereka kau kirim ke Cleveland?”
“Kami sudah mengirim telegraf kepada mereka tadi pagi.”
“Bagaimana bunyinya?”
“Kami memberi mereka detil keadaannya, dan berkata bahwa kami akan senang sekali jika mereka memberikan kita informasi yang bisa membantu.”
“Kau tidak menanyakan keterangan-keterangan khusus kepada mereka yang menurutmu krusial?”
“Aku tanya tentang Stangerson.”
“Tidak ada yang lain? Adakah kau ajukan pertanyaan lain mengenai keadaan kasus ini? Maukah kau kirimkan lagi telegraf kepada mereka?”
“Aku sudah mengatakan apa yang harus ku katakan,” kata Gregson, dengan nada seperti habis diserang.
Sherlock Holmes tertawa kecil ke dirinya sendiri, dan mulai mengeluarkan beberapa komentar, ketika Lestrade sedang berada di ruang depan sedang kami bercakap-cakap di dalam aula, kembali bergabung sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dengan perasaan berpuas diri.
“Mr. Gregson,” katanya, “Aku baru saja membuat kesimpulan penting, dan satu yang terlewatkan adalah aku belum menganalisis dinding-dinding ini.”
Setiap pasang mata menyipit ketika ia berbicara, dan kegembiraannya terlihat jelas meluap-luap seperti menang angka atas lawannya.
“Kemari,” katanya, buru-buru kembali ke ruang, atmospir ruangan serasa lebih jelas sejak kepindahan jenazah tadi. “Sekarang, berdiri di sana!”
Ia menyalakan korek api dengan sepatu bootnya dan memeganginya menghadap dinding.
“Perhatikan itu!” katanya, dengan perasaan seperti pemenang.
Aku pernah berkata bahwa sebagian kertas (wallpaper) berjatuhan di sudut tertentu ruangan ini, sudah terkelupas menjadi potongan besar, meninggalkan plaster kuning yang kasar berbentuk persegi. Di ruang kosong dinding terdapat tulisan cakar ayam yang ditulis dengan coretan darah membentuk satu kata-
RACHE
“Apa pendapatmu?” kata sang detektif, layaknya seorang pemain sandiwara mempertotonkan pertunjukannya. “Tulisan ini tidak terlihat karena kita berada di sudut paling gelap, dan tak seorangpun mamandang ke sana. Pembunuh telah menulisnya dengan darahnya sendiri. Terlihat corengan darah menetes di sepanjang dinding! Membuat semacam gagasan bunuh diri.
scar6
Mengapa sudut ini dipilih untuk ditulis? Aku akan menjelaskannya kepada kalian. Lihat lilin yang berada di atas tungku lempengan itu. Lilin itu dinyalakan pada waktunya, dan jika dinyalakan, sudut ini akan menjadi paling terang sebagai pengganti porsi dinding paling gelap.”
“Dan apa artinya jika kau menemukan tulisan ini?” tanya Gregson dengan suara rendah.
“Arti? Kenapa, ini berarti, penulis meletakkan nama seorang wanita “Rachel”, tetapi diganggu sebelum pria atau wanita ini punya waktu untuk menyelesaikannya. Camkan kata-kataku, ketika kasus ini dipecahkan, kau akan menemukan seorang wanita bernama Rachel punya andil dalam penulisan ini. Semuanya bagus sekali untuk kau tertawakan, Mr. Sherlock Holmes. Kau mungkin sangat pandai dan cerdas, tetapi penciuman anjing tua lebih baik ketika semua sudah terungkap.”
“Aku benar-benar meminta maafmu!” kata rekanku, yang tergganggu oleh ledakan kemarahan orang kecil ini yang disusul dengan ledakan tawa. “Kau pasti akan dapat penghargaan karena telah menjadi salah satu dari orang pertama yang menemukan tulisan ini, seperti yang kau katakan, tulisan ini mencirikan partisipan lain yang hadir pada malam misteri. Aku tidak punya waktu untuk menguji ruang ini, namum dengan ijinmu aku akan melakukannya sekarang.”
Seperti katanya, ia mengeluarkan pita meteran dan kaca pembesar dari sakunya. Dengan dua peralatan ini ia berderap tanpa suara di sekitar ruangan, kadang-kadang berhenti, adakalanya berlutut, dan sesekali menempelkan mukanya. Begitu asiknya ia, hingga melupakan kehadiran kami, mengoceh sendiri sepanjang waktu, terus-menerus menyuarakan tanda seru, erangan, siulan, dan sedikit teriakan dorongan sugestif serta teriakan harapan. Ketika aku melihat dia, aku tertarik memikirkan tentang anjing foxhound berdarah murni yang terlatih mengendus-endus maju-mundur sampai ke tempat rahasia, melolong dengan penuh hasrat, sampai kemudian baunya menghilang. Selama duapuluh menit atau lebih ia melanjutkan risetnya, mengukur jarak antara tanda dengan lebih eksak, yang keseluruhnya tidak kelihatan bagiku, dan adakalanya memakai pita ukurnya untuk mengukur dinding dengan cara yang tidak dapat dimengerti. Pada suatu tempat ia mengumpulkan tumpukan debu berawarna kelabu dari lantai dengan sangat hati-hati, dan mengemasnya ke dalam amplop. Akhirnya ia menganalisa kata-kata di atas dinding dengan kaca pembesarnya, mengarah ke tiap kata dengan ketepatan menit terbanyak. Setelah selesai, ia terlihat puas, karenanya ia memindahkan pita ukur dan kaca pembesarnya ke dalam sakunya.
“Mereka berkata bahwa kegeniusan adalah suatu kapasitas tanpa batas untuk bekerja dengan hati-hati,” katanya dengan senyuman. “Adalah suatu definisi yang amat buruk, Namun berlaku bagi pekerjaan detektif.”
Gregson dan Lestrade melihat manuver rekan amatir mereka dengan anggapan aneh dan pandangan menghina. Jelas sekali mereka gagal menghargai fakta, dan aku mulai menyadarinya. Semua tindakan kecil Sherlock Holmes langsung mengarah ke beberapa defenisi dan praktiknya.
“Apa pendapat anda tentangnya, sir?” tanya mereka berdua.
“Kalian akan kehilangan penghargaan dari kasus ini jika aku mengira harus menolong kalian,” kata temanku. “Kalian sudah bekerja dengan sangat baik, sayang sekali rasanya bagi siapa saja untuk ikut campur.” sindiran yang tajam keluar dari mulutnya. “Jika kalian mau memberitahuku bagaimana hasil penyelidikan kalian,” lanjutnya, “Aku akan membantu kalian semampuku. Sementara itu aku perlu bicara kepada petugas polisi yang menemukan mayat itu. Bisakah kalian memberi tahuku nama dan alamatnya?”
Lestrade melihat sekilas buku catatannya. “John Rance,” katanya. “Ia bebas tugas sekarang. kau akan temukan dia di rumah no. 46, Audley Court, Kennington Park Gate.”
Holmes mencatat alamat itu.
“Kemarilah, Dokter,” katanya: “kita akan pergi dan mengunjunginya. Aku akan menceritakan kepada kalian satu hal yang akan membantu kalian menangani kasus ini,” lanjutnya, sambil berbalik ke kedua detektif tadi. “Telah terjadi pembunuhan, dan pembunuhnya adalah seorang pria. Tingginya lebih dari enam kaki, masih berusia remaja, kakinya kecil untuk orang setingginya, mengenakan sepatu boot bermoncong petak kasar, dan tersundut cerutu Trichinopoly. Ia datang ke sini bersama korbannya menumpang kendaraan beroda 4, yang ditarik dengan kuda yang memakai tiga sepatu tua dan satu sepatu baru di bagian kaki depannya. Kemungkinan pembunuh memiliki muka kemerah-merahan, dan kuku di jari tangan kanannya sungguh panjang. Ini hanya sedikit indikasi, tetapi bisa membantu kalian.”
Lestrade dan Gregson melihat sekilas satu sama lain dengan senyuman tidak percaya. “Jika orang ini dibunuh, bagaimana pembunuhan itu dilaksanakan?” tanya yang lebih dahulu. “Racun,” Kata Sherlock Holmes dengan kasar, dan berhenti melangkah. “Satu hal lagi, Lestrade,” ia menambahkan, sambil berputar ke ambang pintu: “‘Rache,’ adalah bahasa Jerman yang memiliki arti ‘balas dendam’; jadi jangan habiskankan waktu kalian mencari Nona Rachel.” Dengan salam perpisahan ia berjalan pergi, meninggalkan kedua saingannya melongo di belakang.
Bab 4
APA YANG HARUS DICERITAKAN OLEH JOHN RANCE
WAKTU menunjukkan pukul satu ketika kami meninggalkan rumah no. 3, Lauriston Garden. Sherlock Holmes membawaku ke kantor telegraf terdekat, dari sana ia mengirim sederetan telegram yang panjang. Ia kemudian menyetop kereta kuda, dan meminta si kusir untuk mengantar kami ke alamat yang kami peroleh dari Lestrade.
“Tidak ada bukti otentik,” katanya; “Sebetulnya, seluruh pikiranku terpusat pada kasus ini, tetapi tetap saja kita bisa belajar dari semua yang harus dipelajari.”
“Kau membuatku kagum, Holmes,” kataku. “Pastinya kau tidak begitu yakin atas semua petunjuk yang kau berikan.”
“Tak ada ruang untuk kekeliruan,” ia menjawab. “Hal pertama yang ku mengamati sewaktu tiba di sana adalah bahwa kereta kuda membuat dua berkas jalur dengan rodanya mendekat ke pinggiran jalan. Sekarang, mengingat semalam tidak turun hujan selama seminggu, menyebabkan roda kendaraan yang dipakainya meninggalkan bekas yang dalam dan menandakan kejadian itu terjadi semalam. Ada tanda sepatu kuda juga, bentuk salah satunya jauh lebih jelas dibandingkan dengan tiga lainnya, menunjukkan bahwa itu adalah sepatu baru. Karena kendaraan itu sudah berada di sana setelah hujan dimulai, dan tidak di sana lagi sepanjang pagi ini – seperti yang dikatakan Gregson - itu artinya kendaraan itu berada di sana sepanjang malam, dan membahwa kedua orang itu ke rumah no. 3.”
“Kelihatannya cukup sederhana,” kataku; “tetapi bagaimana tentang tinggi orang yang satunya?”
“Kenapa…, tingginya seseorang…, sembilan dari sepuluh kasus, tinggi seseorang dapat diketahui dari panjang langkah kakinya. Perhitungannya cukup sederhana, meskipun demikian tidak ada gunanya memberitahumu. Aku tahu soal langkah kaki mereka dari tanah liat yang ada di luar dan debu di sekitar. Kemudian ku periksa dengan perhitunganku. Ketika seseorang menulis sesuatu di dinding, nalurinya akan mempimpin tangannya untuk menulis ke tingkat lebih tinggi dari ketinggian pandangan matanya. Dan tinggi tulisan tadi enam kaki dari lantai. Hal seperti itu pekerjaan yang sangat mudah.”
“Dan umur nya?” Tanyaku.
“Well, jika seseorang dapat melangkah empat setengah kaki tanpa susah payah, berarti orangnya tidak bisa diam. Genangan lebar di jalanan kebun, dengan jelas menunjukkan bahwa ia berjalan menyeberangi kebun. Tapak sepatunya ada di sana-sini, dan tapak sepatu boot bermoncong petak menggambarkan loncat-loncatan di atas lantai. Sama sekali tidak ada misteri di sana. Sederhananya, aku membiasakan hidup untuk belajar mengamati dan mengambilan keputusan seperti yang ku anjurakan dalam artikel itu. Ada yang lain yang membingungkanmu?”
“Kuku jari dan Trichinopoly,” usulku.
“Tulisan di dinding dibuat dengan menggunakan jari telunjuk manusia yang dicelupkan dengan darah. Dengan kaca pembesarku aku bisa melihat bahwa plester sedikit digores dalam pembuatannya, dan belum pernah terjadi seorang pria manghiasi kukunya. Aku mengumpulkan serakan abu dari lantai. Abu itu menjadi gelap jika tertimpa warna dan lapisan - abu seperti itu hanya dihasilkan oleh cerutu Trichinopoly. Aku pernah bereksperimen dengan abu cerutu, dan menulisnya ke dalam bentuk monografi. Aku bangga pada diriku sendiri karena bisa membedakan abu dari beberapa merek cerutu maupun tembakau terkenal dengan sekali lihat. Ini baru soal detil saja yang membedakan skil detektifku dengan skil detektif Gregson dan Lestrade.”
“Dan muka yang kemerahan?” Tanyaku.
“Ah, itu hanya tebakanku saja, meskipun demikian aku yakin tebakanku benar. Kau seharusnya tidak menanyakannya di saat-saat begini.”
Ku pukul keningku sendiri, sambil berkata. “Kepalaku pusing,”
“Semakin orang berpikir tentang tentang kasus ini semakin misterius jadinya. Bagaimana bisa dua orang ini - jika memang ada dua orang - masuk ke rumah kosong? Apa yang terjadi pada kusir yang memandu mereka? Bagaimana bisa seorang memaksa orang lain untuk meminum racun? Dari mana datangnya darah? Apa yang menjadi obyek pembunuh, apakah ada indikasi perampokan? Bagaimana cincin perempuan bisa ada di sana? Lebih dari itu, mengapa orang kedua menulis kata “RACHE”, dalam bahasa Jerman, sebelum kabur? Aku sama sekali tidak bisa melihat kemungkinan apapun untuk mengaitkan semua fakta ini.”
Rekanku tersenyum seperti memikirkan hal yang sama.
“Kau meringkas semuanya dengan jelas dan padat,” katanya. “Ada banyak yang masih kabur, meskipun demikian pikiranku sudah sampai pada fakta-fakta utama. Sebagaimana hasil penyelidikan Lestrade yang malang, sederhananya adalah berasumsi bahwa polisi salah dalam penyelidikan awal, dengan memberi kesan Sosialisme dan “secret societies”. Tulisan itu bukan ditulis oleh orang Jerman. Huruf A, jika kau menyadarinya, ditulis bukan dengan gaya penulisan jerman. Karena gaya tulisan Jerman bukan huruf cetak namun huruf Latin, sehingga kita bisa mengsumsikan bahwa dia bukanlah orang jerman, tetapi seseorang peniru yang masih kaku dan melebih-lebihkan pekerjaannya. Sederhananya suatu tipuan untuk mengalihkan pemeriksaan polisi. Aku tidak akan menceritakan kepadamu lebih jauh lagi menyangkut kasus ini, Doktor. Kau tahu…, seorang pesulap tidak akan mendapat uang ketika triknya sudah terbongkar; dan jika aku menunjukkanmu metode kerjaku terlalu banyak, kau akan berkesimpulan bahwa aku adalah orang yang biasa saja.”
“Aku tidak akan pernah melakukannya,” jawabku; “pendeteksimu sangat mendekati konsep-konsep ilmiah sebagaimana konsep-konsep ilmiah yang pernah ada.”
Rekan ku kelihatannya senang akan kata-kata ku, yang ku ucapkan dengan sungguh-sungguh. Aku bisa melihat dia begitu sensitip atas rayuan seperti anak gadis yang dipuji kecantikannya.
“Aku akan menceritakan padamu satu lagi,” katanya. “Tapak sepatu berliris-kulit dan Tapak sepatu-petak datang dari kendaraan yang sama, dan mereka berjalan sepanjang jalan kecil bersama-sama selayaknya dua orang teman, bahkan mungkin saling merangkul, semua kemungkinan menunujukan begitu. Ketika mereka berada di dalam rumah, mereka mondar-mandir di ruangan itu, Tapak sepatu berliris-kulit berdiri diam selagi Tapak sepatu-petak mondar-mandir. Aku bisa membaca semuanya dari jejak tapak sepatu yang dibentuk oleh debu; dan aku bisa membaca gerakannya semakin lama semakin banyak. Itu ditunjukkan oleh peningkatan panjang yang dibentuk langkah kakinya. Ia berbicara terus-menerus, dan sibuk sendiri dalam keadaan marah. Kemudian terjadilah pembunuhan itu. Aku sudah menceritakan semua yang ku tahu kepadamu, dan sisanya hanya dugaan semata. Kita punya awal yang baik untuk memulai penyidikan. Kita harus bergerak cepat, karena Aku ingin nonton Konser Halle sore ini untuk menikmati suara Norman Neruda.”
Percakapan ini terjadi selagi kami berada di dalam kereta kuda yang sedang menulusuri serangkaian jalan kecil nan panjang, kumal dan suram. Di jalan yang paling kumal dan suram, kusir kami tiba-tiba berhenti. “Itu dia Audley Court, di dalam sana,” katanya, menunjuk ke celah sempit di baris batu bata berwarna gelap. “Aku akan menunggu kalian di sini.”
Audley Court bukanlah tempat yang menarik. Lintasan jalan yang sempit membawa kami ke trotoar segi-empat dengan bendera-bendera yang dihiasi dengan gambar-gambar mesum. Kami menelusuri jalan melewati sekelompok anak gelandangan, dan menembus jalanan yang kotor, sampai kami tiba di rumah Nomor 46, pintunya dihiasi dengan segelintir kuningan yang membentuk nama Rance. Setiba kami di sana ternyata sang petugas polisi itu sedang berada di kamar tidur, dan kami diminta untuk menunggunya di ruang tamu.
scar7
Ia muncul dengan segera, wajahnya terlihat sedikit marah karena merasa telah diganggu dari tidurnya yang nyenyak. “Aku sudah menyelesaikan laporanku di kantor,” katanya.
Holmes mengambil 1/2 sovereign (mata uang emas) dari sakunya dan memainkannya dengan penuh pertimbangan. “Kami rasa kami perlu mendengar semuanya langsung darimu,” katanya.
“Aku akan senang sekali menceritakan semua yang ku tahu kepada kalian,” jawab petugas polisi itu, dengan mata yang sedikit keemasan.
“Ceritakan kepada kami semua yang kau amati ketika kejadian itu terjadi.”
Rance duduk di atas sofa bulukuda, dan mengerutkan keningnya, seolah-olah diperintahkan untuk tidak mengabaikan apapun dalam ceritanya.
“Aku akan menceritakannya dari awal,” katanya. “Waktu jagaku mulai dari pukul sepuluh malam sampai pukul enam pagi. Pada pukul sebelas terjadi perkelahian di White Hart; namun keadaan bar itu masih cukup tenang. Hujan turun pada pukul satu, dan aku bertemu dengan Harry Murcher - Si pemilik Holland Grove - dan kami sama-sama berdiri di sudut jalan Henrietta dan bercakap-cakap. Sesegera - mungkin sepatah duapatah kata - ku pikir aku harus berjaga untuk memastikan semuanya baik-baik saja di sepanjang Brixton Road. Waktu itu suasana sangat sunyi dan kotor. Tidak ada seorangpun yang ku temui di sepanjang jalan, tiba-tiba satu atau dua buah kendaraan melewatiku. Aku mulai berjalan, dan berfikir dalam hati, tidak ada salahnya jika ditemani dengan empat gelas gin hangat, kemudian tiba-tiba mataku menangkap kilatan cahaya dari jendela yang rumahnya kembar. Yang sekarang ku ketahui bahwa dua rumah yang berada di dalam Lauriston Garden itu adalah rumah kosong lantaran pemilikinya tidak mau mengurusinya lagi, meskipun demikian penyewa terakhir yang pernah tinggal di salah satu rumah itu meninggal karena penyakit demam tipus. Aku mengetuk pintunya, dan kemudian, dari cahaya yang terlihat di jendela, aku menduga ada yang salah. Ketika aku mulai membuka pintu–”
“Berhenti dulu…., dan kau kemudian berjalan kembali ke gerbang kebun,” rekanku menyela. “Untuk apa kau lakukan itu?” Rance melompat terkejut, dan terbelalak melihat Sherlock Holmes dengan kekaguman yang mendalam atas ucapannya tadi.
“Mengapa…, benar sekali.., sir…,” katanya; “Tapi bagaimana kau tahu, hanya Tuhanlah yang tahu. Kau lihat ketika aku mencapai pintu, waktu itu sangat hening dan sepi, di pikiranku adalah akan lebih baik jika ada seseorang bersamaku. Aku tidak takut apapun meskipun berada di sebelah kuburan; tetapi ku pikir barangkali dia meninggal terkena penyakit tipus. Pikiranku mengatakan untuk memutar, dan aku berjalan kembali ke gerbang berharap bisa melihat lentera Murcher, tetapi tidak ada tanda-tanda dari dia maupun orang lain.”
“Tak ada seorang pun di jalanan itu?”
“Tak satu jiwa pun, sir, bahkan anjing pun tidak. Kemudian aku kembali ke pintu dan mendorongnya. Di dalamnya sunyi senyap, kemudian aku memasuki ruangan di mana cahaya itu menyala. Ada suatu kerlipan lilin di atas tungku lempengan - sebuah lilin merah - dan dengan cahayanya lah aku bisa melihat–”
“Ya, aku tahu semua yang kau lihat. Kau berjalan mengeliling ruangan beberapa kali, dan kau berlutut untuk melihat mayatnya, dan kemudian kau berjalan melewatinya dan mencoba membuka pintu dapur, dan kemudian–”
John Rance terperanjak, terlihat di matanya kecurigaan dan ketakutkan. “Di mana kau bersembunyi untuk melihat semua ini?” teriaknya. “Nampaknya kau lebih tahu dari pada yang seharusnya.”
Holmes tertawa dan melemparkan kartunya ke seberang meja menuju ke petugas polisi itu. “Tidak…, Jangan tangkap aku karena pembunuhan ini,” kata Holmes. “Aku hanya salah satu dari anjing pelacak dan bukan serigala; Mr. Gregson atau Mr. Lestrade bersedia melakukannya. Tapi…, meskipun begitu… apa yang kau lakukan berikutnya?”
Rance kembali ke tempat duduknya tanpa kehilangan ekspresi bingungnya. “Aku kembali ke gerbang dan membunyikan peluitku. Suaranya membawa Murcher beserta dua orang atau lebih ke rumah itu.”
“Bukankah waktu itu jalanan kosong?”
“Well, memang, sejauh berniat baik sesiapapun pasti akan datang.”
“Apa maksudmu?”
Raut muka petugas polisi itu meluas ke dalam sebuah seringai. “Aku sudah sering melihat anak muda mabuk-mabukan di setiap aku bertugas,” katanya, “tetapi tidak pernah melihat orang sekecil itu mabuk-mabukan. Ia berdiri di gerbang ketika aku muncul, bersandar di atas terali pagar, dan bernyanyi dengan titik nada di dada tentang model banner Columbine terbaru, atau beberapa hal semacam itu. Ia tidak bisa berdiri, melainkan dengan sedikit bantuan.”
scar8
“Sependek apa dia?” tanya Sherlock Holmes.
John Rance terlihat sedikit terganggu atas pertanyaan ini. “Dia seorang pria pemabuk yang pendeknya tak wajar,” katanya. “Ia tidak akan bisa terlihat di stasiun jika kita belum pernah melihatnya.”
“Wajahnya - pakaiannya - tidakkah kau mengenalinya?” Holmes tiba-tiba memotong dengan tidak sabar.
“Ku rasa aku bisa mengenalinya, mengingat bahwa aku yang lebih dulu menyangganya berdiri dan Murcher di antara kami. Ia seorang pemuda yang panjang, dengan muka kemerah-merahan, bahagian yang lebih rendah terendam keliling–”
“Itu dia pelakunya,” teriak Holmes. “Apa yang terjadi padanya?”
“Kami tidak mengejarnya,” kata polisi itu, dengan suara kecewa. “Aku berani bertaruh, ia pasti bisa menemukan jalan pulang.”
“Bagaimana ia berpakaian?”
“Memakai mantel warna coklat.”
“Apakah dia memegang semacam cemeti?”
“Cemeti - ku rasa tidak.”
“mungkin ia meninggalkan nya di belakang…,” rekan ku berkomat-kamit. “Kemudian setelah itu kau tidak melihat atau mendengar suara kendaran?”
“Tidak.”
“Ini 1/2 sovereign untukmu,” kata rekan ku, sambil berdiri dan mengambil topinya. “Aku takut, Rance, kalau kau tidak akan pernah naik jabatan. Guna kepalamu itu hanya untuk perhiasan. Kau mungkin bisa bangga akan liris sersanmu semalam. Orang yang semalam kau pegangi dengan tanganmu itu adalah kunci dari misteri ini, dan dialah yang sedang kita cari. Tidak ada gunanya berargumen tentang ini sekarang; Ku beri tahu kau ini sungguh-sungguh. Ayo pergi, Doktor.”
Kami naik kereta kuda bersama-sama, meninggalkan informan kami yang bukan hanya masih tidak percaya, namun juga tampak gelisah.
“Orang bodoh!” kata Holmes, dengan pahit, selagi kami kembali ke penginapan. “Coba pikir, dia bisa memperoleh sedikit keberuntungan yang tak ada bandingannya, tapi tidak diambilnya.”
“Aku masih bingung. Mungkin ada benarnya perihal deskripsi tinggi orang ini, dengan gagasanmu tentang bagian kedua dari misteri ini. Tetapi mengapa ia kembali ke rumah itu setelah meninggalkannya? Tindakannya bukan cara-cara kriminal.”
“Cincin nya bung…, cincin nya…: itulah alasan dia kembali. Jika kita tidak punya cara lain untuk menangkapnya, kita bisa menjadikan cincin itu sebagai umpan. Aku akan mengambilnya, Doctor - aku akan meletakkan kalian berdua pada satu tempat dan aku akan menangkapnya. Aku harus berterimakasih kepadamu untuk semua ini. Aku mungkin sudah tersesat jika tadak ada kau, dan juga luput dari studi terbaik yang pernah aku jalani; Penelusuran Benang Merah, eh? Kenapa juga kita tidak menggunakan sedikit jargon seni. Ada berkas merah pembunuhan yang sedang berlari menembus gulungan kehidupan tak berwarna, dan tugas kita adalah membongkar kekusutannya, dan mengisolasinya, dan menyingkapnya inci demi inci. Dan sekarang waktunya makan siang, dan kemudian Norman Neruda. Serangannya dan jilatannya nikmat sekali. Gimana irama kecil permainan Chopin…? dia main dengan sempurna: Tra-La-La-Lira-Lira-Lay.”
Bersandar di dalam kereta kuda, amatir berdarah anjing ini menyanyi seperti burung yang sedang gembira selagi aku bermeditasi tentang berbagi sisi pemikiran manusia.
Bab 5
IKLAN KAMI MENGUNDANG PENGUNJUNG
AKTIVITAS pagi kami sudah terlalu banyak, dan karena kesehatanku yang lemah, aku menjadi lelah di sore harinya. Setelah Holmes pergi ke konser, aku merebahkan diri di atas sofa dan mencoba untuk tidur beberapa jam. Namun sia-sia. Pikiranku dipenuhi oleh semua hal yang baru saja terjadi, dan khayalan yang aneh dan dugaan-dugaan yang memenuhinya. Setiap kali aku menutup mata, Aku melihat kesimpangsiuran di hadapanku, sepertinya baboon yang membunuh orang itu. Begitu menakutkan kesan yang ditimbulkan wajah mayat itu, dan sukar rasanya untuk berandai-andai kecuali berterima kasih kepadaNYa yang telah memindahkan pemilik tubuh itu dari dunia ini. Jika sekiranya ada raut muka manusia yang mencerminkan sifat buruk yang paling jahat, pastilah raut muka Enoch J. Drebber, dari Cleveland. Meskipun demikian, aku menyadari bahwa keadilan harus ditegakkan, dan dalam pandangan hukum kerusakan moral korban tidak bisa dimaafkan.
Semakin aku memikirkannya semakin luar biasa hipotesis rekanku, bahwa kelihatannya korban telah diracuni. Aku ingat bagaimana ia mengendus-endus bibir mayat itu, dan tidak diragukan lagi bahwa dia telah mendeteksi sesuatu yang menimbulkan gagasan itu. Lagi pula, jika bukan racun, hal apa lagi yang bisa menyebabkan kematian orang ini, karena tidak ada luka tanda pencekikan? Tetapi, pada sisi lain, darah siapa yang bergelinang di atas lantai? Tidak ada tanda-tanda perkelahian, maupun senjata korban yang mungkin bisa melukai musuhnya. Sepanjang semua pertanyaan ini masih belum terjawab, aku merasa bahwa tidur bukanlah hal yang gampang, baik untuk Holmes maupun diriku. Ketenangan sikapnya, meyakinkanku bahwa ia sudah membetuk teori yang dapat menerangkan semua fakta ini, meskipun demikian apa yang membuatku tidak bisa membuat dugaan-dugaan instan.
Ia terlambat pulang - sangat terlambat, konser tidak mungkin menahan dia selama ini. Makan malam sudah di atas meja sebelum ia muncul.
“Konser yang bagus sekali,” katanya, ketika dia mengambil tempat duduk nya. “Apakah kau ingat apa yang dikatakan Darwin mengenai musik? Dia meng-klaim bahwa kekuatan menilai dan menghasilkan musik sudah ada jauh sebelum kemampuan berbicara ada. Barangkali itu alasan mengapa kita menjadi sangat dipengaruhi oleh kerumitannya. Ada memori yang samar-samar di jiwa kita berabad-abad yang lalu ketika dunia masih masa kanak-kanak.”
“Gagasan yang agak luas,” Kataku.
“Gagasan seseorang harus sama luasnya seperti Alam jika mereka menginterpretasikan nya dengan Alam,” jawabnya. “Ada apa? kau tidak terlihat seperti dirimu. Apakah kejadian di Brixton Road tadi membuatmu terganggu.”
“Sejujurnya…, memang membutku terganggu…,” Kataku. “Seharusnya aku lebih kuat, terhadap kasus ini, setelah pengalamanku di Afghan. Aku melihat teman-temanku tercincang berkeping-keping di Maiwand tanpa rasa gugup.”
“Aku bisa mengerti… Ada misteri dalam kasus ini yang merangsang imajinasi; ‘tidak ada imajinasi tidak ada kengerian’. Sudahkah kau baca ‘koran sore’ hari ini?”
“belum.”
“Beritanya memberi kita peluang yang bagus menyangkut kasus ini. Beritanya tidak menyebutkan soal cincin kawin yang jatuh ke atas lantai ketika mayat itu diangkat. Memang… sebaikya tidak disebutkan.”
“Kenapa?”
“Perhatikan iklan ini,” ia menjawab. “Aku sudah kirim orang untuk memuatnya di setiap koran begitu kita meninggalkan Brixton Road tadi pagi.”
Ia melemparkan korannya kepadaku dan aku melirik ke bagian yang ditandai. Iklan itu menjadi pengumuman yang pertama di dalam ‘Telah ditemukan’ kolom. ‘Di Brixton Road, pagi ini,’ sebagai berikut, ‘sebuah cincin kawin emas, dimukan di jalan di antara White Hart Tavern dan Holland Grove Hart. Hubungi Dr. Watson, 221B, Baker Street, sekitar pukul delapan dan pukul sembilan malam ini.’
“Maafkan jika aku menggunakan namamu,” katanya. “Karena jika menggunakan namaku, orang-orang bebal ini bisa mengenalinya, dan mereka akan mengacaukan kasus ini.”
“Tak apa,” Jawabku. “Tapi…, sekiranya ada orang yang menghubungiku, dan aku tidak punya cincinnya.”
“Oh, ya, kau punya,” kata nya, mengatakannya kepada ku. “Tidak masalah… hanya sebuah facsimile.”
“Dan siapa yang kau harapkan akan menjawab iklan ini?”
“Siapa…, orang dengan jeket warna coklat - teman kemerah-merahan kita dengan tapak sepatu petak. Jika ia tidak datang sendirian…, ia akan mengirimkan suruhannya.”
“Tidakkah ia berfikir ini terlalu berbahaya?”
“Sama sekali tidak. Jika pandanganku menyangkut kasus ini benar, dan aku juga punya alasan yang kuat, orang ini lebih suka mengambil resiko apapun dari pada harus kehilangan cincinnya. Menurut dugaanku ia menjatuhkan cincin itu selagi membungkuk di atas mayat Drebber, dan pada waktu itu dia tidak merasa kehilangan. Ia baru merasa kehilangan setelah meninggalkan rumah itu dan cepat-cepat kembali, namun polisi sudah berada di dalam rumah itu dan ia menyesali kebodohannya sendiri karena telah membiarkan lilin menyala. Ia harus berpura-pura mabuk untuk menghilangkan kecurigaan yang mungkin timbul karena kemunculannya di depan gerbang. Sekarang, seandainya dirimu adalah dia. Setelah memikirkan iklan tadi, kemungkinannya, dia pasti berfikir bahwa dia telah kehilangan cincin itu di jalan setelah meninggalkan rumah itu. Apa yang ia lakukan kemudian? dia akan melihat ‘koran sore’ ini dengan penuh nafsu dan berharap akan melihat cincin itu karena ada orang yang menemukannya. Matanya, tentu saja, akan berbinar-binar. Ia akan sangat gembira. Kenapa juga ia harus takut terperangkap? Tidak ada alasan baginya untuk berfikir tentang hubungan antara kasus pembunuhan dan penemuan sebuah cincin. Ia akan datang… Ia akan datang… Kau akan melihatnya selama satu jam.”
“Dan kemudian?” Tanyaku.
“Oh, kau bisa meninggalkan kami berdua. Kau punya senjata?”
“Aku punya pistol revolver tua dan beberapa magazine.”
“Sebaiknya kau membersihkannya dulu lalu mengisinya. Ia akan menjadi orang yang menyedihkan; tapi, meskipun demikian, aku harus beranggapan bahwa dia orang yang tidak bisa diduga, dan selalu siap apapun yang akan terjadi.” Aku pergi ke kamarku dan mengikuti nasihatnya. Ketika aku kembali dengan pistol ditanganku, meja sudah dibersihkan, dan Holmes sibuk dengan posisi duduk favoritnya yaitu mengesek biola.
“Alur cerita menjadi rumit,” katanya, ketika aku masuk; “Aku baru saja menerima jawaban dari telegram Amerika ku. Pandanganku atas kasus ini ternyata benar.”
“Dan itu adalah- -?” tanyaku dengan bernafsu.
“Biolaku akan lebih baik dengan dawai-dawai baru,” katanya. “Kantongin pistolmu. Ketika orang itu datang, bicara padanya dengan cara yang biasa. Sisanya, serahkan kepadaku. Jangan menakutinya dengan pandangan yang terlalu tajam.”
“Sudah pukul delapan sekarang,” kata ku, melihat sekilas arlojiku.
“Ya. Ia mungkin akan tiba dalam beberapa menit lagi. Buka pintunya… Ya begitu… Sekarang letakkan kuncinya di bagian dalam. Terima kasih! Ini buku tua yang aneh, aku memungutnya dari stall kemarin - De Jure inter Gentes - diterbitkan dalam bahasa Latin di Liege, Lowlands, pada tahun 1642. Kepala Charles dipastikan masih ada di badannya ketika volume buku ini dihentikan edarannya.”
“Siapa pencetaknya?”
“Philippe de Croy, ntah siapapun dia…. Di halaman pertama, tintanya sudah sangat memudar, tertulis ‘Ex libris Guliolmi Whyte.’ Aku ingin tahu siapa William Whyte. Semacam pengacara pragmatical abad ke-17, mungkin saja… Tulisannya memiliki semacam suatu simpulan undang-undang. Aku rasa orang yang kita tunggu sudah datang…”
Seperti katanya tadi, terdengar suara bel yang tajam. Sherlock Holmes bangkit pelan-pelan dan memindahkan kursinya ke arah pintu. Kami mendengar si pelayan berjalan sepanjang aula, dan terdengar dengan tajam suara ‘klik’ grendel pintu ketika dia membukanya.
“Apakah Dr. Watson tinggal di sini?” dia bertanya dengan nada jelas namun kasar. Bukan jawaban si pembantu yang terdengar melainkan suara pintu menutup, dan seseorang mulai menaiki tangga. Terdengar dentuman langkah kaki seperti ragu-ragu melangkah dan terseok-seok. Wajah temanku seperti terkejut kala ia mendengarnya. Ia datang perlahan melintasi sepanjang lintasan, kemudian terdengar ketukan lemah di ambang pintu.
“Masuk,” Teriakku.
Saat ku persilahkan masuk, kami mengharapkan sesosok pria yang kejam, seorang wanita tua keriput masuk ke dalam apartemen. Kemunculannya disilaukan oleh nyala cahaya, dan setelah meletakkan sebuah curtsey, dia berdiri dan berkedip ke arah kami dengan mata yang muram dan meraba-raba sakunya dengan nervous serta jari yang gemetar. Aku melirik rekanku, dan mukanya mengasumsikan semacam ungkapan putus asa dan yang aku harus kulakukan adalah tetap tenang.
scar9
Perempuan tua itu mengeluarkan koran sore, dan menunjuk ke iklan yang kami buat. “Ini yang membawaku kemari, tuan-tuan yang baik,” katanya, meletakkan curtsey yang lain; “Cincin kawin emas yang jatuh di Brixton Road. Cincin itu kepunyaan anak perempuanku, pernikahannya masih berumur 12 bulan, suaminya seoran awak kapal Union, dan apa yang akan dikatakannya nanti jika ia pu’ pulang dan menemukan isterinya tanpa cincin ini… tidak bisa ku bayangkan, dia pemarah, terlebih lagi ketika ia minum minuman keras. Jika anda ragu, dia pergi ke sirkus semalam bersama dengan–”
“Apakah itu cincin miliknya?” Tanyaku.
“Terimakasih Tuhan!” tangis perempuan tua itu; “Sally akan menjadi perempuan yang bahagia malam ini. Itu cincin nya.”
“Dan di manakah alamat rumah anda?” tanyaku, sambil memungut pensil.
“Duncan Street, no. 13, Houndsditch. Lumayan jauh dari sini.”
“Brixton Road tidak terletak diantara Houndsditch dan sirkus manapun,” Kata Sherlock Holmes dengan tajam.
Wanita tua itu memalingkan muka dan berlutut memperhatikan Holmes dengan lingkaran merah di mata kecilnya. “Tuan ini menanyakan alamatku,” katanya.
“Sally tinggal di rumah no. 3, Mayfield Place, Peckham.”
“Dan namamu adalah–?”
“Namaku Sawyer - dan namanya adalah Dennis, Karena Tom Dennis yang menikahinya - anak laki-laki cerdas dan juga memiliki nama bersih, sepanjang ia berada di laut, dan di perusahaan itu tidak ada awak kapal yang melebihinya; tetapi ketika di pantai, sebagian untuk wanita dan sebagian untuk kedai minuman keras–”
“Ini cincin mu, Mrs. Sawyer,” Aku menyela, menuruti instruksi rekanku; “Cincin ini jelas kepunyaan putrimu, dan aku senang bisa mengembalikan cincin ini kepada pemiliknya yang sah.”
Dengan bermacam-macam celotehan pemberi berkat dan ucapan terima kasih sang wanita tua itu mengemasi cincinnya ke dalam saku, dan berjalan dengan kaki terseret menuruni tangga. Sherlock Holmes segera terperanjak setelah nenek itu pergi dan buru-buru menuju ke kamarnya. Dalam beberapa detik ia kembali dengan bungkusan ulster dan dasi. “Aku akan mengikutinya,” katanya, dengan tergopoh-gopoh; “dia pasti disuruh, dan akan membawaku kepadanya. Tunggulah sampai aku pulang.” Pintu aula terbanting keras, nenek itu sudah berada diluar sebelum Holmes menuruni tangga. Dari jendela bisa ku lihat dia berjalan di seberang jalan dengan lemah, selagi sang pemburu membuntutinya tak jauh di belakangnya. “Pasti salah satu dari teorinya salah,” pikirku, “kalau tidak ia pasti sudah sampai ke jantung permasalahan.” Tidak ada alasan baginya untuk memintaku menunggunya sampai pulang, Mustahil rasanya untuk tidur sampai aku mendengar hasil petualangannya.
Hampir pukul 9 sejak ia meninggalkan rumah. Tidak tahu berapa lama lagi ia di luar sana, aku duduk diam sambil menghisap pipa ceretuku dan membaca buku halaman 40 karangan Henri yang berjudul Vie de Boheme. Sudah jam sepuluh lewat, dan aku mendengar langkah kaki pelayan wanita yang sedang menuju ke tempat tidurnya. Pukul sebelas, dan terdengar injakan kaki wanita pemilik pondokan melewati pintuku, dengan tujuan yang sama. Hampir pukul duabelas sebelum aku mendengar bunyi yang tajam dari grendel kuncinya. Sekejap ia masuk, ku lihat wajahnya seperti wajah kegagalan. Perasaan sedih dan rasa senang tampak telihat campur aduk, dan tiba-tiba ia masuk dengan tertawa.
“Demi kebaikan, sebaiknya aku tidak memberitahu Scotland Yarders tentang masalah ini,” teriaknya, sambil menjatuhkan diri ke atas kursinya; “Aku sudah terlalu banyak memperolok mereka, mereka pasti tidak akan membiarkanku mendengar akhir cerita ini. Aku tertawa, karena aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan bersma-sama mereka.”
“Apa yang terjadi?” Tanyaku.
“Oh, Aku tidak keberatan menceritakan kegagalanku. Makhluk itu menghilang di jalan sempit ketika dia mulai berjalan pincang dan menunjukkan tanda-tanda sakit di kakinya. Mendadak dia muncul di sebuah perhentian, dan samar-samar terlihat di antara kendaraan roda empat yang sedang lewat. Aku berusaha untuk dekat dengannya agar bisa mendengar alamatnya, tetapi aku tidak perlu memasang kuping dekat-dekat, karena suaranya cukup nyaring untuk didengar dari seberang jalan, ‘Tolong antar ke rumah no. 13, Duncan Street, Houndsditch,’ dia berteriak. Mulai kelihatan aslinya, aku pikir, dan dia terlihat aman di dalamnya, aku bertengger di belakang. Itu adalah seni yang harus dimiliki oleh setiap detektif. Well, kemudian kami berderik. Kami tiba di jalan yang dimaksud tanpa memperkencang ikatan. Aku meloncat sebelum sampai di depan pintu ruang tamu dan berjalan di jalan dengan nyantai. Aku lihat kereta kuda diberhentikan. Si kusir melompat ke bawah, dan aku melihat dia membuka pintu dengan posisi menanti. Tidak ada seorangpun keluar. Ketika aku mendekatinya, ia sedang meraba-raba ke sekeliling dengan kebingungan karena kereta kudanya kosong, dan mengeluarkan koleksi makian terbaik yang pernah ku dengar. Tidak ada jejak atau tanda-tanda dari penumpangnya, aku takut dia menghilang sebelum kami berangkat. Pada rumah Nomor 13 kami menemukan bahwa rumah itu kepunyaan Keswick, terlihat dari tulisan di depan pintu, dan tak seorangpun pernah mendengar nama Sawyer maupun Dennis di sana.”
“Maksud mu,” teriakku, dalam kekaguman, “perempuan tua lemah yang berjalan terhuyung-huyung bisa keluar dari kereta kuda selagi kereta sedang bergerak, tanpa terlihat olehmu ataupun kusir?”
“Nenek-nenek terkutuk!” Kata Sherlock Holmes, dengan tajam. “Anak muda itu pasti menyamar. Tidak diragukan lagi, Dia tahu sedang diikuti, dan berusaha mengecohku. Ini menunjukkan bahwa dia tidak bekerja sendiri, tidak seperti yang aku membayangkan, Dia punya teman yang siap mengambil resiko untuknya. Sekarang, Doktor, kau sudah mendengarnya. Turutilah nasihatku, istirahatlah…”
Aku pasti merasa sangat lelah, maka aku mematuhi nasihatnya. Aku meninggalkan Holmes duduk di depan perapian, dan sepanjang malam aku mendengar kemurungan jiwa melengking dari biolanya, dan karenanya aku tahu bahwa ia masih memikirkan masalah aneh yang masih harus ia pecahkan.
Bab 6
TOBIAS GREGSON MEMAMERKAN KEBOLEHANNYA
SURAT KABAR hari berikutnya penuh dengan ‘Misteri Brixton,’ begitu mereka menyebutnya. Masing-Masing memiliki cerita sendiri, dan beberapa kepala berita ditambah-tambahkan. Ada beberapa informasi yang menurutku baru. Aku masih menyimpan sejumlah kliping dan intisari mengenai kasus ini di bukuku. Berikut ini adalah beberapa ringkasannya:
Telegraf harian menyebutkan bahwa dalam sejarah kejahatan, jarang terjadi tragedi yang menonjolkan orang asing. Nama jerman dari korban, ketidakhadiran dari semua motif lain, dan ancaman yang tertulis di atas dinding, semuanya menunjukan tindakan seorang narapidana politik dan seorang revolusioner. Orang-orang sosialis memiliki banyak pengikut di Amerika, dan korban adalah salah satunya, tentu saja, meninggalkan catatan kriminal yang tak tertulis, dan jejak mereka telah dihilangkan. Sepintas-lalu menurut Vehmgericht, Aqua Tofana, Carbonari, Marchioness de Brinvilliers, teori Darwinian, prinsip Malthus, dan pembunuhan di Ratcliff Highway, artikel ini menyimpulkan, dengan anjuran pemerintah dan advokasi Inggris, untuk berwaspada terhadap orang asing.
Komnetar Standard mengenai fakta ini adalah bahwa ketidakpatuhan pada hukum biasanya terjadi di bawah pemerintahan Liberal. Mereka muncul dari penyakit masyarakat, dan kelemehan otoritas. Korban adalah orang Amerika yang tengah bermukim di sini selama beberapa minggu. Ia tinggal di rumah sewa Nyonya Charpentier, di Torquay Terrace, Camberwell. Dalam perjalanannya Ia ditemani oleh sekretaris pribadinya, Mr. Joseph Stangerson. Keduanya berpamitan kepada wanita pemilik pondokan pada hari Selasa, tanggal 4, dan pergi ke Setasiun Euston dengan mengatakan bahwa mereka akan mengejar Liverpool express. Kemudian mereka terilihat bersama-sama di platform tersebut. Tidak ada yang mengenali mereka sampai ditemukannya mayat Mr. Drebber, seperti yang tertulis, di dalam sebuah rumah kosong di Brixton Road, beberapa mil dari Euston. Bagaimana ia bisa di sana? atau, bagaimana ia bertemu ajalnya? adalah pertanyaan yang masih menyelubungi misteri ini. Tidak ada yang tahu ke mana perginya Stangerson. Kita bisa lega mengetahui bahwa Mr. Lestrade dan Mr. Gregson, dari Scotland Yard, dilibatkan dalam kasus ini, dan yakin bahwa para petugas terkenal ini akan dengan cepat memberikan pencerahan terhdap kasus ini.
Surat Kabar Harian ini mengobservasi bahwa kejahatan ini pasti menyangkut masalah politis. Kesewenang-wenangan dan kebencian Liberalisme menciptakan pemerintahan kontinental dan telah menimbulkan efek yang membuat tanah kita dipenuhi sejumlah orang-orang hebat berstatus warganegara tetap dimana mereka dibenci akibat dari sejarah yang mereka alami. Di antara orang-orang ini terdapat suatu tanda penghormatan yang kuat, dan kalau dilanggar hukumannya adalah kematian. Upaya yang harus dilakukan adalah menemukan sekretarisnya, Stangerson, untuk memastikan beberapa kebiasaan tertentu korban. Langkah hebat telah dilakukan dengan mengorek informasi dari alamat rumah sewanya yang mana seluruhnya berkat energi dan keakutan Mr. Gregson dari Scotland Yard.
Sherlock Holmes dan aku membaca berita ini bersama-sama saat sarapan, dan tampaknya mereka memberikan hiburan yang cukup pantas. “Sudah ku bilang kan…, apapun yang terjadi, yang akan mencetak score pasti Lestrade dan Gregson.”
“Itu tergantung bagaimana hasilnya.”
“Oh, bless you, tidak jadi soal sekecil apapun itu. Jika pelakunya tertangkap, kasus ini akan menjadi nilai tambah bagi kinerja mereka; jika lepas, kedengkian akan menyelimuti kinerja mereka. Aku menang dan kau kalah. Apapun yang mereka lakukan, mereka akan dibantu. ‘Un sot trouve toujours un plus sot qui l’admire.’”
“Ada apa itu?” teriak ku, karena pada seat itu terdengar sejumlah suara langkah kaki di dalam aula dan di atas tangga, dibarengi dengan ungkapan jijik dari wanita pemilik pondokan kami.
scar10
“Mereka adalah divisi Baker Street dari satuan detektif kepolisian,” kata rekanku genting; dan kala ia berbicara terjadi desak-desakkan yang memenuhi setengah ruangan yang terdiri dari setengah lusin anak jalanan dan gelandangan-gelandangan beretnis Arab yang pernah ku lihat sebelumnya.
“‘Perhatian…!” teriak Holmes, dengan nada tajam, dan enam bajingan kecil berdiri dalam satu barisan seperti patung arca kecil nan buruk rupa. “Nanti pada waktunya kalian akan mengirim Wiggins sendirian untuk memberikan laporan, dan sisanya harus menunggu di jalan. Kau sudah menemukannya, Wiggins?”
“Belum, sir, kami belum menemukannya,” berkata salah seorang dari ank-anak muda itu.
“Aku berharap sekali kau menemukannya. Kau harus terus mencarinya. Ini gajimu.” Ia memberikan mereka masing-masing satu shilling. “Sekarang, pergilah kalian semua, dan kembali dengan laporan yang lebih baik di lain waktu.”
Ia melambaikan tangannya, dan mereka terbirit-birit menuruni tangga seperti gerombolan tikus, dan kemudian kami mendengar lengkingan suara mereka memasuki jalanan.
“Masih banyak lagi tugas yang harus dikerjakan Wiggins dibandingkan teman-temannya,” kata Holmes. “Suatu kekhilafan bagi seorang pejabat - menyuruh orang untuk menyegel mulut mereka. Anak-anak muda ini, ada di mana-mana dan dengar segalanya. Pendengaran dan mata mereka setajam jarum, namun demikian; yang mereka inginkan adalah organisasi.”
“Apakah kau memanfaatkan mereka untuk kasus Brixton ini?” Tanyaku.
“Ya; ada satu hal yang ingin aku pastikan. Itu hanya soal waktu. Hullo! sekarang kita akan dengar beberapa kabar dengan sebetul-betulnya! Lihat itu… Gregson sedang berjalan menuju ke sini dengan raut muka bahagia tertulis di wajahnya. Menuju ke rumah kita, pasti… Ya…, dia berhenti. Ini dia….!”
Ada suara gemuruh bunyi bel, dan dalam beberapa detik detektif berambut pirang itu menaiki tangga, tiga langkah serentak, dan tiba-tiba masuk ke ruang tamu kami.
“Temanku yang baik…,” teriaknya, memeras tangan Holmes yang tak merespon, “beri aku selamat! Aku sudah membuat keseluruhan masalah cerah secerah hari ini.”
Terlihat olehku bayangan kegelisahan dari ekspresi wajah rekanku.
“Maksudmu kau sudah menulusuri jejak yang benar?” tanyanya.
“Jejak yang benar! Kenapa, sir, kami sudah menangkap dan mengurung pelakunya.”
“Dan namanya adalah?”
“Arthur Charpentier, sub-lieutenant angkatan laut,” teriak Gregson dengan sombong sambil menggosok tangan gemuknya dan membusungkan dadanya.
Sherlock Holmes memberi pandangan ringan dan santai dengan senyuman.
“Duduk lah…, Dan cobalah cerutu ini,” katanya. “Kami tertarik untuk tahu bagaimana kau mengerjakannya. Kau mau whisky dan air?”
“Aku tidak keberatan,” jawab sang detektif. “Usaha yang hebat yang aku lakukan sepanjang satu atau dua hari terakhir ini membuatku lelah. Tidak begitu melelahkan sih…, kau tahu, seperti kekuatan pikiran. Kau akan menghargainya, Mr. Sherlock Holmes, karena kita berdua seorang pemikir.”
“Kau terlalu memujiku,” kata Holmes, dengan genting. “Ceritakan kepada kami bagaimana kau bisa mencapai hasil yang paling memuaskan ini.”
Kemudian sang Detektif duduk di kursi lengan, dan menggelembungkan asap cerutunya seperti merasa puas. Kemudian tiba-tiba ia menampar pahanya kegirangan.
“Lucu sekali…,” teriaknya, “Lestrade yang malang, dia berpikir dirinya hebat, dia menelusuri jejak yang salah. Ia mengejar sekretaris korban ‘Stangerson’, yang belum pernah melakukan kejahatan apapun seperti bayi yang belum lahir. Aku yakin ia pasti sudah menangkap sekertaris itu sekarang.”
Gregson tertawa terkekeh sampai tercekik.
“Dan bagaimana caramu mendapatkan petunjuk?”
“Ah, Tentu saja Aku akan menceritakan semuanya kepadamu, Dr. Watson. Dan ini di antara kita saja. Kesukaran pertama yang harus lebih dulu kita hadapi adalah menemukan perusahaan Amerika. Sebagian orang akan menunggu sampai iklan mereka dijawab, atau sampai segerombolan orang datang untuk memberikan informasi cuma-cuma. Tapi itu bukan gayaku bekerja. Kau ingat topi yang ada di samping korban?”
“Ya,” kata Holmes; “by John Underwood and Sons, 129, 129, Camberwell Road.”
Gregson sungguh terlihat sangat kecewa.
“Aku tidak menyangka kau mengingatnya,” katanya. “Kau sudah ke sana?”
“Belum.”
“Ha!” teriak Gregson, dengan suara lepas; “Seharusnya kau jangan menyepelekan sebuah peluang, sekecil apapun itu.”
“Untuk berfikir hebat, jangan menganggap sesuatu itu kecil,” kata Holmes, dengan singkat dan padat.
“Well, aku pergi ke Underwood, dan menanyakan apakah mereka pernah menjual topi dengan ukuran seperti itu. Ia memeriksa bukunya, dan kembali dengan segera. Ia pernah mengirim topi itu kepada Mr. Drebber, bertempat tinggal di Charpentier’s Boarding, Torquay Terrace. Kemudian aku mengambil dan mencari alamat yang diberikannya.”
“Cerdas sekali… sungguh cerdas…!” bisik Sherlock Holmes.
“Berikutnya Aku menghubungi Madame Charpentier,” lanjut detektif tersebut. “Ketika aku bertemu dengannya, keadaannya sangat menderita dan pucat. Putrinya berada di ruangan itu juga - seorang anak perempuan yang luar biasa sehat, namun juga; matanya merah dan bibirnya bergetar ketika aku berbicara kepadanya. Tak luput dari perhatianku, aku mulai untuk menaruh curiga. Kau tahu perasaan itu kan.., Mr. Sherlock Holmes, ketika kita menelusuri jejak yang benar - semacam kegelisahan melanda jiwa. ‘Sudahkah kau mendengar tentang kematian misterius dari mantan anak kosmu Mr. Enoch J. Drebber, dari Cleveland?’ Tanyaku.
“Sang ibu mengangguk. Nampaknya dia tidak mampu berkata apa-apa. Putrinya tiba-tiba menangis. Aku semakin yakin orang-orang ini mengetahui sesuatu mengenai pembunuhan itu.
“‘Pada pukul berapa Mr. Drebber meninggalkan rumahmu untuk pergi ke stasiun?’ Tanyaku.
“‘Pukul delapan,’ katanya, seperti meneguk sesuatu ke dalam kerongkongannya untuk menjaga pergolakan jiwa. ‘Sekretarisnya, Mr. Stangerson, berkata bahwa akan ada dua kereta - satu pada pukul 9:15 dan satunya lagi pada pukul 11. Dan ia akan menumpang kereta yang pertama.’
“‘Dan kapan terakhir kau melihatnya?’
“Perubahan mengerikan terjadi di wajahnya ketika aku menanyakan pertanyaan itu. Raut wajahnya memucat. Ada beberapa detik sebelum dia bisa mengucapkan sesuatu ‘Ya’ - dan ketika dia mengucapkannya suaranya menjadi parau, nada yang tidak wajar.
“Terjadi keheningan untuk beberapa saat, dan kemudian putrinya berbicara dengan suara tenang, dan jelas. “‘Tidak baik berbohongan, ibu,’ katanya. ‘Berterus teranglah kepada tuan ini. Kami pernah melihat Mr. Drebber.’ “‘Tuhan memaafkan mu!’ teriak Madame Charpentier, melemparkan tangannya ke atas dan kembali ke kursinya. ‘kau telah membunuh saudara laki-laki mu.’
“‘Arthur lebih suka kalau kita mengatakan kebenaran,’ anak perempuan itu menjawab dengan kuat.
“‘Lebih baik kau ceritakan segalanya sekarang,’ Kataku. ‘cerita setengah-ssetengah lebih buruk dari pada tidak sama sekali. Di samping itu, kau tidak tahu sebanyak yang kami tahu.’
“‘Terserah mu, Alice!’ teriak ibunya; dan kemudian, mulai berbalik ke arahku, ‘Aku akan menceritakan semuanya kepada mu, sir. Jangan harap sikap ketakutanku seperti ini menyebabkan nama putraku terbawa-bawa dalam kengerian ini. Ia sepenuhnya tidak bersalah. Ketakutanku adalah, kalau-kalau di matamu maupun di pandangan orang lain menganggap bahwa ia mungkin telah membuat semcam perjanjian. Apapun ceritanya, mustahil terjadi. Akhlaknya yang baik, profesinya, sejarah prilakunya tidak memungkinkan dia melakukan hal-hal terlarang.’
“‘Jalan terbaik bagimu adalah mengakui semua fakta,’ Jawabku. ‘Tergantung padanya, jika putramu tidak bersalah ia akan tetap di sini.’
“‘Barangkali, Alice, sebaiknya kau tinggalkan kami berdua di sini,’ kata perempuan itu, dan putrinya menurutinya. ‘Sekarang, sir,’ dia melanjutkan, ‘Aku tidak berniat menceritakan semua ini kepadamu, tetapi karena putriku yang malang telah menyingkapnya aku tidak punya pilihan lain. Sekali memutuskan untuk bicara, aku akan menceritakan semuanya kepadamu tanpa menyembunyikan apa-apa lagi.’
“‘Ini adalah keputusanmu yang paling bijaksana,’ kataku.
“‘Mr. Drebber tinggal bersama kami selama hampir tiga minggu. Ia dan sekretarisnya, Mr. Stangerson, tengah bepergian berkeliling Benua Eropa. Aku melihat label Copenhagen di celana pendek mereka masing-masing, label itu menunjukkan tempat persinggahan mereka terakhir. Stangerson adalah orang yang tenang, dan pendim, biarpun begitu majikannya, maafkan kata-kataku, berbeda sekali dengannya. Ia orang yang kasar dan tidak berperikemanusiaan. Tiap malam dia pulang dalam keadaan mabuk, dan, tentu saja, setelah jam duabelas malam bisa dibilang hari-harinya tidak pernah tertata. Tatakrama kepada pelayan wanita memualkan. Dan yang paling buruk dari itu semua, dia menerapkan sikap itu kepada putriku, Alice, dan berbicara kepadanya dengan tidak sopan lebih dari satu kali, kebetulan, Alice terlalu lugu untuk memahaminya. Pada suatu saat ia benar-benar memeluk Alice. Kejadian itu menyakiti hati sekretarisnya sendiri dan memaksa sekertaris itu mencelanya atas tindakannya yang tidak jantan.’
“‘Tetapi mengapa kau diam saja?’ Tanyaku. ‘Ku rasa kau bisa mengusir anak kosmu jika kau mau.’ Mrs. Charpentier menjadi malu atas pertanyaanku. ‘Aku bermohon kepada Tuhan, setiap hari dari hari pertama ia datang aku selalu memberinya peringatan,’ katanya. ‘Tetapi godaan itu teramat sakit. Mereka membayarku satu pound per hari dan 14 pound seminggu, dan sekarang sedang musim serba susah. Aku seorang janda, dan anak laki-lakiku bekerja di Angkatan laut dan ia sudah banyak mengeluarkan biaya untukku. Aku enggan menghabiskan uang itu. Aku harus melakuan yang terbaik. Bayaran mereka terlalu besar, sehingga aku bersedia menampung mereka dengan bayaran seperti itu. Itulah alasan mengapa mereka masih tinggal di sini.’”
‘Well?’
“‘Jiwaku lega ketika melihat dia datang. Putraku baru saja mengambil cutinya, tetapi aku tidak menceritakan apapun kepadanya, karena sifatnya yang pemarah, dan ia juga sangat menyayangi adik perempuannya. Ketika aku menutup pintu sekilas aku merasa beban di pikiranku sedikit menghilang. Kemudian sirna kembali, ketika lebih kurang dari satu jam terdengar bunyi bel, dan aku sadar bahwa Mr. Drebber telah kembali. Ia lebih bergairah, tentu saja karena minuman keras. Ia teroyong-oyong masuki ke ruangan, dan ketika itu aku sedang duduk bersama putriku, dan dengan membuat komentar yang tidak logis tentang ketinggalan kereta. Kemudian ia mengarah ke Alice, dan di depan mataku, dia merayu putriku. “Kau sudah cukup umur,” katanya, “dan tidak ada hukum yang melarangmu. Aku punya cukup banyak uang untuk dibagi. Tak usah pedulikan perempuan tua ini, ikutlah denganku sekarang. Kau akan hidup seperti seorang putri.” Alice yang malang menjadi sangat ketakutan dan bersembunyi untuk menjauhi laki-laki itu, tetapi ia menangkap pergelangan tangannya dan mencoba menyudutkannya ke arah pintu. Aku menjerit, dan pada saat itu putraku Arthur datang ke ruangan itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Aku mendengar makian dan suara perkelahian. Aku terlalu takut mengangkat kepalaku. Ketika mataku terbuka aku melihat Arthur berdiri di pintu masuk dan tertawa, dengan tongkat di tangannya. “Aku kira orang ini tidak akan mengganggu kita lagi,” katanya. “Aku akan mengejarnya dan melihat apa yang akan dilakukannya.” Dengan kata-kata itu ia mengambil topinya dan mulai turun ke jalan. Pagi berikutnya kami mendengar berita kematian misterius Mr. Drebber.’
“Mrs. Charpentier mengeluarkan statemen ini langsung dari mulutnya namun dengan hembusan nafas yang terputus-putus. Kadang-Kadang dia berbicara dengan nada yang sangat rendah sehingga aku sulit untuk mengerti apa yang ingin dia sampaikan. Walaupun demikian aku telah membuat catatan stenografi atas semua yang dikatakannya, kemungkinan tidak ada kekeliruan.”
“Sungguh menarik,” Kata Sherlock Holmes, sambil menguap. “Apa yang terjadi selanjutnya?”
“Ketika Mrs. Charpentier berhenti,” lanjut sang detektif, “Aku menyadari inti dari keseluruhan kasus ini. Aku memandang simpatik ke wanita tersebut seperti yang selalu aku lakukan kala berhadapan dengan wanita, aku menanyakan kepadanya pukul berapa putranya kembali.
“‘Aku tidak tahu,’ jawabnya.
“‘Tidak tahu?’
“‘Tidak; ia punya kunci rumah ini, dan ia bisa masuk tanpa membangunkan kami.’
“‘Setelah kau pergi tidur?’
“‘Ya.’
“‘Kapan kau tidur?’
“‘Sekitar pukul sebelas.’
“‘Jadi putra mu pergi lebih dari dua jam?’
“‘Ya.’
“‘Atau mungkin empat-lima jam?’
“‘Ya.’
“‘Apa ia lakukan selama itu?’
“‘Aku tidak tahu,’ dia menjawab, seluruh bibirnya memucat.
“Tentu saja, setelah itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Aku segera mendapat informasi di mana Letnan Charpentier waktu itu, aku membawa dua petugas bersamaku, dan menangkapnya. Ketika aku menyentuh bahunya dan memperingatkannya untuk ikut bersama kami dengan tenang, ia menjawab dengan tidak sopan, dia berkata ‘Biarku tebak…, kau pasti menangkapku untuk kasus kematian si bajingan Drebber.’ Kami bahkan belum menyebut-nyebut soal pembunuhan kepadanya, jadi itu menandakan ia patut dicurigai.”
“Sudah semuanya,” kata Holmes.
“Ia masih membawa tongkat berat seperti yang dideskripsikan ibunya - ketika dia menyusul Drebber. Tongkat keras yang terbuat dari pohon ek.”
“Lalu, bagaimana teorimu?”
“Well, teori ku adalah bahwa ia mengikuti Drebber sepanjang Brixton Road. Ketika tiba di sana, terjadi perkelahian di antara mereka, mengakibatkan Drebber menerima pukulan dari tongkat itu, barangkali di sekitar pusar perut, yang menyebabkan dia terbunuh tanpa meninggalkan tanda apapun. Malam itu jalanan menjadi sangat basah dan tak ada seorangpun di sekitar mereka, sehingga Charpentier menyeret mayat korbannya ke dalam rumah kosong. Mengenai lilin, darah, tanda peringatan di dinding, dan cincin, boleh jadi sebagai muslihat untuk mengacaukan penyelidikan polisi.”
scar11
“Bagus sekali!” kata Holmes dengan nada memberi harapan. “Sungguh, Gregson, kau sudah berusaha sejauh ini. Kami masih ingin mendengar ceritanya lagi.”
“Aku yakin sudah menanganinya dengan rapi,” jawab sang detektif, dengan bangga. “Anak muda itu menyampaikan sebuah statemen dengan suka rela, katanya setelah mengikuti Drebber selama beberapa waktu, Drebber merasa diikuti, dan menyetop kereta kuda untuk meloloskan diri darinya. Dalam perjalanan pulang dia bertemu dengan teman sekapalnya dahulu, dan jalan bersama-sama dengan dia. Ketika ditanyai di mana teman sekapalnya tinggal, ia tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Ku pikir keseluruhan kasus sangat sesuai. Hal yang membuat ku tertawa adalah apa yang ada di kepala Lestrade, dia mengikuti petunjuk yang salah. Aku takut ia tidak mengakui kekalahannya. Kengapa…, demi Tuhan, inilah kekurangan dirinya!”
Tentu saja itu Lestrade, yang menaiki tangga selagi kami sedang berbicara, dan memasuki ruang. Ayem dan periang yang biasanya menandai tingkah laku dan pakaiannya, walupun begitu, terasa lain. Wajahnya dipenuhi pikiran kusut dan keresahan, sedang pakaiannya kusut dan berantakan. Jelas sekali ia datang dengan niat untuk berkonsultasi dengan Sherlock Holmes, karena merasa rekan kerjanya telah mempermalukannya. Ia berdiri di tengah-tengah ruangan, meraba-raba topinya dengan gugup dan tak tahu harus berbuat apa. “Ini kasus yang paling aneh,” pada akhirnya dia berbicara - “kasus yang paling sulit dimengerti.”
“Ah, kau menemukan nya, Mr. Lestrade!” teriak Gregson, seperti memenangkan sesuatu. “Ku pikir kau datang ke sini untuk sebuah kesimpulan. Sudahkah kau menemukan dan menangani si sekretaris, Mr. Joseph Stangerson?”
“Si sekretaris, Mr. Joseph Stangerson,” kata Lestrade, dengan genting, “dibunuh di Halliday’s Private Hotel sekitar pukul enam pagi ini.”
Bab 7
CAHAYA DALAM KEGELAPAN
HASIL penyelidikan yang di sampaikan Lestrade merupakan informasi yang sangat penting dan mengejutkan bagi kami bertiga sungguh tak terduga. Gregson terperanjak dari kursi dan menumpahkan sisa whisky dan airnya. Aku terbelalak pada Sherlock Holmes dalam kesunyian, bibirnya tertekan dan di atas matanya terlihat keningnya mengkerutan.
“Stangerson juga!” ia berkomat-kamit. “Alur cerita semakin rumit.”
“Sebelumnya sudah cukup rumit,” gerutu Lestrade, sambil menarik kursi. “Tampaknya aku harus menyerahkan kasus ini ke mahkamah militer.”
“Apa kau - Apa kau yakin atas hasil penyelidikan ini?” kata Gregson dengan suara yang gagap.
“Aku baru saja dari kamarnya,” kata Lestrade. “Aku orang pertama yang melihat apa yang telah terjadi.”
“Kita telah mendengar pandangan Gregson menyangkut kasus ini,” Holmes mengamati. “Maukah kau memberithau kami apa yang sudah kau lihat dan melakukan?”
“Aku tak keberatan,” jawab Lestrade, dari tempat duduknya. “Ku akui bahwa aku sependapat dengan opini tentang Stangerson menyangkut kematian Drebber. Perkembangan baru kasus ini membuktikan bahwa perkiraanku sepenuhnya salah. Dengan satu gagasan, aku ingin tahu apa yang terjadi pada sang sekretaris. Mereka tadinya terlihat bersama-sama di Euston Station sekitar pukul setengah sembilan pada malam ke tiga. Paginya, pada pukul dua, Drebber ditemukan tewas di Brixton Road. Pertanyaan yang ada di kepalaku adalah apa yang sedang dikerjakan Stangerson antara pukul 8:30 sampai dengan waktu terjadinya pembunuhan, dan setelahnya. Aku mengirim telegraf ke Liverpool, dan memberikan deskripsi mengenai orang ini, dan memperingatkan mereka untuk mengawasi kapal Amerika itu. Kemudian aku melanjutkan penyelidikanku dengan menghubungi semua hotel dan rumah penginapan di sekitar Euston. Kau tahu kan…, aku beranggapan jika Drebber dan rekannya telah terpisah, secara naluriah mereka akan mencari penginapan terdekat untuk satu malam, dan kemudian melanjutkan perjalanan esok paginya.”
“Mungkin mereka janjian bertemu di suatu tempat,” kata Holmes.
“Jadi itu membuktikan, kerja kerasku semalam cuma buang-buang waktu saja. Pagi ini aku bangun pagi-pagi sekali, dan pada jam delapan aku pergi ke Halliday’s Private Hotel, di Little George Street. Dalam pemeriksaanku, mereka langsung menjawab bahwa Mr. Stangerson sedang menginap di sana.
“‘Tidak salah lagi…, kaulah orang yang sedang ditunggu-tunggunya,’ kata mereka. ‘Dia sedang menantikan seseorang selama dua hari ini.’
“‘Di mana dia sekarang?’ Tanyaku.
“‘Dia ada di atas di kamarnya. Ia ingin ditemui pukul sembilan.’
“‘Aku akan naik dan segera menjumpainya,’ Kataku.
“Dalam benakku…, mungkin kedatanganku yang tiba-tiba akan membuatnya panik dan dengan spontan mengatakan sesuatu yang seharusnya dirahasiakannya. Sang pelayan menunjukkan kamarnya dengan senang hati; yaitu di lantai dua, dan di sana ada koridor kecil yang mengarah ke kamar itu. Sang pelayan menunjukkan ku pintunya, dan kembali ke lantai bawah lagi ketika aku melihat sesuatu yang membuatku merasa mual, walaupun aku sudah berpengalaman duapuluh tahun. Dari bawah pintu terlihat lengkungan pita merah sedikit bercak darah, yang meliuk-liuk ke seberang lintasan pintu dan membentuk kumpulan kecil di sepanjang sudut bawah dibalik pintu. Aku berteriak dan sang pelayanpun datang. Ia pun hampir pingsan ketika melihatnya. Pintu dikunci dari dalam, dan kami mendobraknya dengan bahu kami. Jendela ruangan terbuka, dan di sebelah jendela, berjubel sesosok tubuh manusia yang sedang memakai baju tidur. Ia benar-benar mati, dan sudah tergeletak untuk beberapa waktu, karena anggota badanya dingin dan kaku. Ketika kami memutar mayat itu, sang pelayan langsung mengenalinya sebagai pria yang menyewa kamar dengan mengunakan nama Joseph Stangerson. Penyebab kematiannya adalah tikaman yang sangat dalam di sisi kiri dada yang menembus jantungnya. Dan sekarang bertambah lagi bagian teraneh dari kasus ini. Menurutmu apa tujuan pembunuhan orang ini?”
Bulu-kudu ku berdiri, dan muncul firasat kengerian, bahkan sebelum Sherlock Holmes menjawab.
“Kata RACHE, yang ditulis dengan darah,” katanya.
“Begitukah…,” kata Lestrade, dengan suara penasaran dan kaget; dan kami semua diam untuk beberapa saat.
Ada sesuatu yang begitu teratur dan begitu sulit dimengerti atas perbuatan dari pembunuh tak dikenal ini, yang memberikan suatu gambaran mengerikan atas kejahatannya. Kegelisahanku bertitik berat pada medan pertempuran, terasa gatal ketika aku mengingatnya.
“Pelakunya terlihat oleh,” lanjut Lestrade. “seorang bocah…, yang berjalan sepanjang jalan setapak yang berasal dari kandang kuda di belakang hotel. Ia tahu bahwa tangga, yang biasanya tergeletak di sana, telah diangkat menghadap jendela di tingkat dua yang terbuka lebar. Katanya, setelah dia melewati tangga itu, ia berbalik dan melihat seseorang menuruni tangga. Ia turun dengan tenang dan nyantai, anak itu mengira orang itu adalah tukang kayu atau pembuat mebel yang sedang bekerja di hotel. Ia tidak sadar…, terlalu sulit baginya untuk menyadari bahwa terlalu awal bagi seseorang untuk bekerja. Anak itu mendeskripsikan pelakunya sebagai seorang yang jangkung, memiliki muka kemerah-merahan, dan bermantel panjang bewarna kecoklat-coklatan. Setelah membunuh, pastinya, dia masih berada di ruang itu untuk beberapa saat, berdasarkan penemuan noda darah di dalam baskom dan di seprai, menandakan bahwa pelakunya telah mencuci tangannya di baskom dan membersihkan pisaunya dengan seprai.”
Aku melirik Holmes yang tengah mendengar deskripsi si pembunuh yang sama persis dengan teorinya. Ada, walupun demikian, tidak terlihat tanda-tanda kegembiraan yang meluap-luap atau kepuasan di mukanya.
“Apakah kau tidak menemukan apapun, di ruang itu, yang mengarah ke si pembunuh?” ia bertanya.
“Tidak ada. Stangerson menyimpan dompet milik Drebber di sakunya, tetapi tampaknya wajar, mengingat dia yang selalu melakukan setiap pembayaran. Ada 80 pound lebih di dalamnya, dan tidak ada yang diambil. Apapun motif dari kasus aneh ini, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda perampokan. Tidak ada surat ataupun peringatan di dalam saku Stangerson, kecuali sebuah telegram, dari Cleveland tertanggal satu bulan yang lalu, dan berisi kata-kata, ‘J.H. ada di Eropa.’ Tidak tertera sebuah nama di pesan ini .”
“Dan, apa ada yang lainnya di sana?” tanya Holmes.
“Tidak ada yang penting. Novel milik korban, yang mungkin dibacanya sewaktu akan tidur, tegeletak di atas tempat tidur, dan pipanya berada di atas kursi sebelahnya. Ada segelas air di atas meja, dan di ambang jendela terdapat sebuah kotak kecil seperti kotak salep yang berisi sepasang pill.”
Sherlock Holmes terperanjak dari kursinya dengan seruan kesenangan.
“Mata rantai terakhir,” teriaknya, dengan sangat gembira. “Kasusku sudah lengkap sekarang.”
Dua detektif tersebut terbelalak melihatnya dalam kekaguman.
“Sudah ditanganku sekarang,” kata rekanku, dengan penuh percaya diri, “semua uraian yang membentuk kekusutan ini. Tentu saja, ada detil yang harus diisi, tetapi aku yakin pada semua peristiwa pokok, dari waktu Drebber berpisah dengan Stangerson di setasiun, sampai pada penemuan surat di mayat Stangerson, seolah-olah aku melihat mereka dengan mataku sendiri. Aku akan memberimu bukti pendapatku. Bisa kau meletakkan pil itu di tanganmu?”
“Ya…, ini dia,” kata Lestrade, mengeluarkan kotak kecil putih; “Aku mengambilnya, dompet dan juga telegram, untuk disimpan ke tempat yang aman di kantor polisi. Kebetulan aku sempat membawa pil ini, karena aku mengakatakan kepada mereka bahwa aku tidak menganggap pil-pil ini penting.”
“Letakkan pil-pil itu di sini,” kata Holmes. “Sekarang, Doktor,” berbalik ke arahku, “Apakah ini pil biasa?”
Jelas bukan pil-pil biasa. Pil-pil ini berwarna kelabu seperti mutiara, kecil, bulat, dan hampir transparan jika diterawang. “Dari cahaya dan ketransparanan nya, Aku bisa membayangkan pil-pil ini bisa larut di dalam air,” Kataku.
“Tepat sekali,” jawab Holmes. “Sekarang, maukah kau ke bawah dan menjemput setan kecil yang malang, sejenis anjing, yang sudah berbaring begitu lama, dan kemarin kau dimintai tolong oleh wanita pemilik pondokan kita untuk menghilangkan penderitaannya?”
Aku pergi ke lantai bawah dan kembali ke atas dengan membawa anjing dalam pelukanku. Nafasnya dan tatapan matanya menunjukkan dia sehat-sehat saja. Tentu saja, moncongnya yang seputih salju memproklamirkan bahwa dia sudah tidak seperti anjing lagi. Aku meletakkannya di bantal di atas permadani.
“Sekarang aku akan membelah dua salah satu pil ini,” kata Holmes, sambil menarik pisau lipatnya seperti yang ia katakan. “Separuhnya kita masukkan kembali ke dalam kotak untuk lain hari. Separuhnya lagi akan ku masukkan ke dalam gelas wine ini, dan air sesendok teh penuh. Jika teman kita, doktor, benar, pil ini akan larut.”
“Ini mungkin sangat menarik,” kata Lestrade, dengan nada seperti tersangka yang terluka karena habis ditertawakan; “Aku tak mengerti, apa ini berkaitan dengan kematian Mr. Joseph Stangerson.”
“Sabar, temanku, sabar! kau akan tahu pada waktunya bahwa ini berkaitan dengan segalanya. Sekarang aku akan menambahkan sedikit susu untuk membuatnya terasa enak, dan memberikannya ke anjing ini, kita bisa lihat ia sudah siap menjilatnya.”
Seperti yang dikatakannya ia menuangkan isi gelas wine ke dalam cawan dan menaruhnya di depan anjing, yang dengan cepat anjing itu menjilatinya sampai kering. Tindakan Sherlock Holmes yang sungguh-sungguh sejauh ini meyakinkan kami dan kami semua duduk dalam kesunyian, dengan serius menyaksikan binatang itu, dan mengharapkan efek yang mengejutkan. Tak ada tanda-tanda seperti yang diharapkan. Anjing tetap berbaring di atas bantal, bernafas seperti biasa, tetapi kelihatannya sirkulasi udaranya tidak semakin baik maupun semakin buruk.
scar12
Holmes mengeluarkan arlojinya, dan menit ke menit berlalu tanpa hasil, ungkapan perasaan sedih karena gagal dan kecewa muncul di raut wajahnya. Ia menggigiti bibirnya, menghentak-hentakan jarinya di atas meja, dan menunjukkan semua gejala ketidaksabaran dan kegentingan lainnya. Sungguh tertekan emosinya dan aku merasa kasihan kepadanya, sedang kedua detektif tersenyum mengejek, bukan karena dikeecewakan oleh tes yang dilakukan Holmes.
“Tidak mungkin sebuah kebetualan,” pada akhirnya dia berteriak, berdiri dari kursinya dan melompat-lompat liar di dalam ruangan; “tidak mungkin ini pasti kebetulan semata. Pil-pil yang kucurigai dalam kasus Drebber, setelah kematian Stangerson, benar-benar sudah ditemukan. Tetapi pilnya tidak bekerja. Apa arti semua ini? Tidak mungkin rantai pemikiranku bisa salah. Ini mustahil! Dan anjing sakit ini masih tetap sehat. Ah, aku tahu! Aku tahu!” Dengan pekikan kesenangan yang sempurna dengan cepat ia menandatangani kotak itu, membelah pil lain menjadi dua, melarutkannya, menambahkan ke susu, dan meminumkannya ke anjing tadi. Lidah makhluk yang bernasib sial itu kelihatan jelas lembab di dalamnya sebelum dia kejang-kejang, dan tergeltak kaku tak bernyawa seperti terasambar kilat.
Sherlock Holmes menarik nafas dalam-dalam, dan menghapus keringat dari jidatnya. “Harusnya aku lebih yakin,” katanya; “Mulai sekarang aku mesti tahu bahwa ketika sebuah fakta tampak berlawanan dengan rentetan pengambilan keputusan, tetap saja bisa diuji dengan interpretasi lainnya. Tentang kedua pil di dalam kotak itu, satuya adalah racun yang paling mematikan, dan yang lain sepenuhnya tidak mematikan. Seharusnya aku tahu lebih awal sebelum aku melihat kotak itu.”
Statemen terakhir ini membuatku terkejut, aku sulit percaya bagimana bisa pikiran sehatnya tertata seperti itu. Kematian si Anjing membuktikan bahwa dugaannya benar. Tampaknya kabut di dalam pikiranku secara berangsur-angsur memudar, dan aku mulai berpersepsi samar-samar menyangkut kebenarannya.
“Semuanya tampak asing bagimu,” lanjut Holmes, “sebab dari awal kau gagal menyelidiki petunjuk paling penting yang ada di depan matamu. Aku beruntung bisa menyadarinya, dan segalanya sudah terjadi sejak aku memberikan konfirmasi perkiraan awalku, dan, tentu saja, menjadi urutan logis tentangnya. Karenanya hal-hal yang membingungkanmu dan membuat kasus ini lebih kabur malah menerangiku dan memperkuat kesimpulanku. Keliru sekali mencampuradukkan keadaan tidak dikenal ke dalam misteri. Kasus kriminal yang kebanyakan terjadi di tempat umum lebih misterius lagi, sebab tidak bisa menghadirkan petunjuk baru maupun khusus dimana sebuah keputusan dapat diambil. Pembunuhan ini akan lebih sulit lagi jika mayat korban ditemukan tergeletak di jalanan tanpa ada orang di jalan atau saksi yang menjadikannya luar biasa. Detil Aneh ini, jauh dari kata sulit, dan benar-benar sudah membuat sedikit lebih mudah.”
Mr. Gregson, yang mendengarkan pidato ini amat tidak sabar, tidak bisa menahan dirinya lebih lama. “Perhatian, Mr. Sherlock Holmes,” katanya, “kita benar-benar mengakui kecerdasanmu, dan caramu bekerja. Lagi pula, sekarang kita ingin sesuatu yang lebih dari sekedar teori. Ini tentang menangkap seseorang. Aku sudah menjalankan tugasku, dan tampak aku salah tangkap. Charpentier Muda tidak bisa dikaitkan dengan kasus ke dua ini. Lestrade mengikuti sekertarisnya, Stangerson, dan nampaknya dia juga salah orang. Kau sudah mengungkapkan semua yang tersembunyi di sini, dan di sana, dan nampaknya kau lebih tahu dari apa yang kami lakukan, tetapi kami rasa sudah saatnya untuk bertanya langsung kepadamu berapa banyak kau tahu menyangkut urusan ini. Dapatkah kau menyebutkan sebuah nama yang melakukan ini semua?”
“Aku terpaksa harus mengakatan bahwa Gregson benar, sir,” kata Lestrade. “Kami berdua sudah berusaha, dan gagal. Kau sudah berkata lebih dari sekali sejak aku berada di ruang ini kau punya semua bukti yang kau perlukan. Pastinya kau tidak akan menahannya lebih lama lagi.”
“Hal apapun yang menyebabkan penundaan penangkapan pembunuh ini,” Aku mengamati, “memberinya waktu untuk melakukan kekejian lainnya.”
Tekanan dari kami semua, menimbulkan tanda-tanda keraguan Holmes. Ia tetap mondar-mandir di ruangan dengan kepalanya menunduk menghadap dadanya dan keningnya seperti tertarik ke bawah, seperti kebiasaannya ketika kehilangan semangat.
“Tidak akan ada lagi pembunuhan,” pada akhirnya ia berkata, tiba-tiba berhenti dan menghadap ke kami. “Kau bisa menempatkan pertimbangan ini di luar pertanyaan. Kau bertanya kapadaku jika aku tahu nama si pembunuh. Aku bersedia. Semata-mata tahu namanya adalah hal kecil, lebih dari itu, bandingkan dengan kekuasaan yang dapat kita lakukan terhadapnya. Hal inilah yang secepatnya ingin ku lakukan. Aku punya harapan besar untuk memanage nya dengan rencanaku sendiri; tapi memerlukan penanganan yang lunak, karena kita berhadapan dengan orang yang pintar, licik, dan nekat, dia dibantu oleh seseorang, seperti yang telah aku buktikan sendiri, seseorang yang sepintar dirinya. Sepanjang orang ini tidak tahu orang lain memiliki petunjuk dirinya maka mereka punya kesempatan untuk berlindung; tetapi jika ia punya kecurigaan setipis apapun, ia akan merubah namanya, dan segera lenyap di antara empat juta penduduk kota besar ini. Tanpa maksud untuk mepermalukan siapapun, aku harus mengatakan bahwa orang-orang ini lebih dari sekedar lawan tanding satuan petugas, dan oleh karena itu aku belum minta bantuan kalian. Jika aku gagal, tentu saja, aku bisa memastikan semua kesalahan penyebab kehilangan ini; tetapi itu yang aku wanti-wanti. Sekarang aku bisa menjanjikan sesuatu, dengan segera aku bisa berkomunikasi dengan kalian tanpa membahayakan rencanaku sendiri, aku akan melakukannya.”
Gregson dan Lestrade nampaknya tidak puas terhadap janji-janji ini, atau sindiran yang ditujukan kepada detektif polisi. Yang satu menggaruk-garuk kepala sampai ke akar rambut pirangnya, yang satunya lagi menunjukkan matanya yang bulat bercahaya berkilauan dengan kemarahan dan kecurigaan. Terdengar ketukan pintu, kemudian terdengar suara Wiggins muda berbicara dengan logat Arabs, memperkenalkan dirinya yang kecil dan tidak enak untuk dipandang sehingga membuat kedua detektif tersebut tidak punya kesempatan untuk berbicara.
“Please, sir,” katanya, sambil menyentuh rambut di dahinya, “Kereta kudanya sudah sampai.”
“Anak baik,” kata Holmes, dengan lemah lembut. “Kenapa kalian tidak memperkenalkan disain barang ini ke Scotland Yard?” ia melanjutkan, sambil mengambil sepasang borgol baja dari laci. “Lihatlah betapa indahnya kerajinan logam ini. Alat ini mudah sekali digunakan.”
“Disain yang lama sudah cukup baik,” kata Lestrade, “Jika kita bisa menemukan pembunuh ini dan memborgolnya.”
“Benar sekali, benar sekali,” kata Holmes, tersenyum. “Pak kusir mungkin mau membantu untuk mengangkat kotakku. Wiggins…, mintalah kepada pak kusir untuk membawanya ke atas.”
Aku terkejut melihat rekanku berkata seolah-olah ia bersiap-siap melakukan perjalanan, karena ia tidak pernah berkata apapun kepadaku tentang hal ini. Ada sebuah portmanteau kecil di dalam ruang, dan dicabutnya dan mulai diikat dengan tali. Dia sibuk mengikat benda itu ketika pak kusir memasuki ruang.
“Bantu aku dengan gesper ini, kusir,” katanya, sambil berlutut mengerjakan pekerjaannya, tanpa memutar kepalanya.
Orang yang datang barusan mendekatinya dengan ekspresi cemberut dan menantang kemudian membantu Holmes. Dengan segera terdengar jelas suara klik bahan logam, dan Sherlock Holmes terperanjak berdiri lagi.
“Tuan-Tuan,” teriaknya, dengan mata bercahaya, “Mari ku perkenalkan kepada kalian semua pembunuh Enoch Drebber dan Joseph Stangerson, Mr. Jefferson Hope.”
Semuanya terjadi dengan tiba-tiba sampai aku tidak menyadarinya. Sekejap aku teringat gambaran, ungkapan gembira Holmes dan deringan suaranya, kebingungan kusir, bermuka bidab, kala ia membelalak di cahaya belenggu, yang kelihatannya seolah-olah keajaibanlah yang membuatnya diborgol. Selama satu atau dua detik kami terdiam seperti sekelompok patung. Kemudian dengan raungan amukan tak jelas, pembunuh itu meronta mencoba membebaskan dirinya dari genggaman Holmes, dan melemparkan dirinya ke arah jendela. Perabot-perabot dan kaca penghias ruangan menghalangi geraknya; namun sebelum dia benar-benar menerobos jendela, Gregson, Lestrade, dan Holmes langsung bergerak seperti kawanan anjing. Ia diseret kembali ke ruang, dan kemudian dimulailah konflik yang hebat. Dengan sekuat tenaga dan demikian sengit kami berempat berulang-ulang merangkul dia agar tidak lepas. Kelihatannya ia memiliki kekuatan mengelepar seperti penderita epilepsi.
scar13
Tangan dan mukanya terkoyak-koyak karena mencoba melewati kaca, tapi kehilangan darah tidak berpengaruh ataupun mengurangi perlawanannya. Sampai Lestrade berhasil mencekik pergelangan lehernya yang membuatnya sadar bahwa perjuangannya sia-sia; bahkan kami merasa belum aman jika belum mengikat kakinya seperti halnya tangannya. Setelah selesai, kami berdiri dengan napas dan suara terengah-engah.
“Kita tahan kereta kudanya,” Kata Sherlock Holmes. “Keretanya akan kita gunakan untuk mengirim dia ke Scotland Yard. Dan sekarang, tuan-tuan,” lanjutnya, dengan senyuman yang sedap dipandang, “Kita sudah sampai di akhir misteri kecil kita. Sekarang kalian bisa menanyakan kepadaku apapun yang kalian suka, dan jangan takut kalau-kalau aku berkeberatan menjawabnya.”

0 komentar:

Poskan Komentar